Komik

The Dog Club

the-dog-club-01Terus-terusan baca novel itu melelahkan juga. Sekali-sekali butuh selingan seperti baca komik. Satu judul komik yang sangat menghiburku adalah The Dog Club. Isinya banyak anjing yang lucu-lucu dan sangat menambah wawasan tentang anjing.

Klub Anjing Universitas Nanjo berlokasi di kamar apartemen Momota, ketua Klub Anjing, mahasiswa tingkat 5 kedokteran hewan. Dia hidup bersama 15 ekor anjing. Seiji Hayami, mahasiswa baru tingkat 2, bergabung dalam Klub Anjing tersebut. Dia seorang yang gila anjing. Mereka bersama-sama menolong dan merawat anjing-anjing yang telantar.

Punya anjing itu menyenangkan, tapi kalau lebih dari 10 ekor dengan tenaga yang hanya sedikit? Memberi makan, mengajak jalan-jalan, memeriksakan ke klinik kalau ada yang sakit, membagi waktu dengan kegiatan dan tugas kuliah. Tak banyak anggota klub yang bertahan lama dengan kegiatan seperti itu. Lebih seringnya hanya Momo dan Seiji dan merawat mereka. Seiji pun sempat goyah. Tapi dia dan Momo punya hati yang sama terhadap para anjing.

Seiji mendapat banyak pelajaran selama bergabung dalam Klub Anjing. Tidak semua anjing tetap tinggal di Klub Anjing. Mereka secara rutin menyelenggarakan bazar adopsi untuk mencarikan majikan baru bagi anjing-anjing yang dirawat Klub Anjing. Bazar adopsi pertama Seiji sangat berat baginya karena harus melepaskan anak anjing yang sudah dirawatnya. Dari sini dia bisa melihat bahwa masih ada orang-orang baik hati yang peduli pada anjing-anjing.

Setelah bazar adopsi biasanya jumlah anjing akan berkurang. Tapi tak lama akan bertambah lagi jumlahnya karena ada saja anjing telantar yang dibawa ke Klub Anjing. Selain itu, mereka juga berhadapan dengan para pemilik anjing yang sulit. Mereka—terutama Momo sang ketua—bahkan rela berhemat demi memberi makan anjing-anjing. Banyak suka dan duka yang mereka alami.

Terkadang Seiji meminta bantuan dari Mayuko Tamai, teman seangkatannya yang tinggal di apartemen sebelah Klub Anjing. Awalnya Mayuko mengkritik pedas kegiatan Seiji di Klub Anjing, tapi kemudian dia mau membantu saat dibutuhkan, seperti ikut merawat anjing-anjing saat semua anggota klub sedang ada panggilan ke luar. Ada juga Kak Akagi, senior mereka yang telah menjadi dokter hewan. Walaupun sering bersikap dingin karena pikiran realistisnya, tapi dia selalu mengulurkan tangan bagi Klub Anjing. Karena kebodohan menular, katanya. (Andaikan ada dokter hewan setampan dan sebaik dia).

Buat para pecinta anjing, komik karya Yuka Katano (penulis cerita), Haruki Takakura (gambar), dan Aki Hamanaka (skenario) ini sangat aku rekomendasikan. Ceritanya unik, lucu, menyentuh hati, dan ada informasi tambahan di bagian terakhir tiap jilidnya yang menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana tentang anjing. Sayangnya hanya terdiri dari tiga volume.

Komik

Whispers Voices

Banyak harta karun yang belum terjamah (olehku) di rumah. Terutama yang berada dalam laci adik laki-lakiku. Tidak seperti dua kakak perempuannya yang maniak novel, adik kami maniak komik. Terutama komik Doraemon. Tapi entah sejak kapan dia mulai melirik komik genre lain, terutama yang berhubungan dengan kesukaannya pada anjing dan alat musik, juga yang berbau horor atau misteri. Tentu saja hobi barunya berburu komik ini menyenangkanku juga karena aku juga bisa ikut baca. Haha. Selain itu, komik-komik pilihannya termasuk yang tidak biasa.

Salah satu komiknya ada yang berjudul Whispers Voices, karya Misaki Kogawa. Adik perempuanku yang lebih dulu baca dan merekomendasikanku untuk membaca salah satu judul cerita di dalamnya yang menurutnya pasti aku akan suka.

Jadi, aku pun membacanya dan memang aku suka. Ada unsur misteri, tapi juga persahabatan yang indah dan terasa lembut di hati. Lalu, hari ini (Kamis, 22 Desember) aku membaca komik itu lagi dari awal karena ternyata aku belum membaca cerita-cerita lainnya. Adikku membeli komik ini pasti karena di sampulnya ada gambar tokohnya memainkan alat musik.

Komik ini berisi lima cerita. Tiga cerita pertama masing-masing berdiri sendiri. Dua cerita terakhir saling berkaitan. Bagi yang mau meneruskan membaca, di dalam tulisan ini terdapat spoiler.

whispers-voices Continue reading “Whispers Voices”

Novel

Clockwork Angel – Buku Satu The Infernal Devices

clockwork-angel_cassandra-clare

Aku sudah lama sekali penasaran dengan novel ini. Berulang kali melihatnya di toko buku dan lebih sering lagi di rak perpusda tapi, selalu kulewati. Itu karena Clockwork Angel adalah buku pertama dari entah berapa seri dan tak ada novel lanjutannya di perpusda. Satu hal menyebalkan yang sering kujumpai di perpusda. Jadi, resikonya jika aku meminjam buku ini adalah aku tak akan bisa membaca membaca novel-novel berikutnya kecuali aku mencari pinjaman di tempat lain atau membelinya. Aku mengambil resiko itu hari Minggu lalu, bersamaan dengan aku meminjam Fire.

Belakangan aku tahu bahwa Clockwork Angel adalah buku pertama dari tiga seri, lebih tepatnya trilogi The Infernal Devices, karya Cassandra Clare. Alasan lain aku begitu lama urung untuk meminjam buku ini adalah karena ketebalannya, 644 halaman, cukup tebal dan berat. Dan ternyata aku sudah pernah pinjam entah kapan, tapi sepertinya waktu itu aku tak sempat membaca, jadi Ibunda yang baca. Semua novel yang aku pinjam dari perpusda, Ibunda juga ikut baca.

“SIHIR MEMANG BERBAHAYA—TAPI CINTA TETAP LEBIH BERBAHAYA”

Kutipan dari sampul belakang Clockwork Angel. Penekanan terhadap “cinta” adalah poin kesekian yang membuatku agak enggan meminjam buku ini. Aku membaca novel fantasi karena, yah, fantasinya.

Untuk cerita dengan latar tahun 1870an menurutku gaya bahasa yang digunakan terlalu modern. Memang sih tokoh-tokoh utamanya anak muda, tapi tetap saja. Semakin jauh aku membacanya, aku berusaha membayangkan London zaman itu dengan gaya berpakaian saat itu yang agak sulit aku lakukan. Aku perlu sering mengingatkan diri bahwa saat itu di London, tahun 1870an. Lalu, aku pun berpikir bahwa aku pasti akan lebih menikmati untuk menonton filmnya dibandingkan membacanya.

Jalan ceritanya sendiri menarik. Tessa yang datang ke London dari New York untuk bertemu kakaknya, Nathaniel, malah dikurung oleh dua bersaudari kejam dan menghadapi berbagai keanehan. Tessa diselamatkan dan dibantu oleh para Pemburu Bayangan yang adalah keturunan malaikat untuk menemukan kakaknya. Pencarian yang dilakukan ternyata mengarahkan mereka ke sebuah penemuan yang mengejutkan tentang persekongkolan makhluk gaib Dunia Bawah untuk menentang para Pemburu Bayangan yang menjaga keamanan di Dunia Bawah.

Aku sebenarnya mengharapkan lebih banyak pengejaran dan pertarungan dengan iblis, sayangnya tidak terjadi, ada sih tapi hanya dalam porsi kecil. Walaupun begitu, ada banyak makhluk gaib. Makhluk setengah iblis atau terkena penyakit iblis. Contohnya warlock adalah setengah iblis. Vampir dan manusia serigala adalah makhluk yang terkena penyakit iblis. Tessa sendiri kemungkinan adalah warlock.

Aku pun bertanya-tanya tentang clockwork angel milik Tessa, malaikat yang terbuat dari mesin jam yang dijadikan bandul kalung oleh Tessa, judul dari novel ini, yang tak banyak berperan. Memang sering disebutkan bahwa clockwork angel tersebut jadi semacam jimat untuk Tessa dan menenangkannya karena bunyi detik mesin jamnya. Benda itu ternyata juga benda ajaib yang baru menunjukkan keajaibannya mendekati akhir cerita. Sepertinya mubazir dijadikan judul kalau porsinya dalam cerita kecil sekali, malah hampir tak ada pengaruhnya.

Sekali lagi, aku pasti lebih senang untuk menonton filmnya. Tokoh-tokohnya keren. James dan Will dijelaskan sebagai dua laki-laki tampan, selayaknya setengah malaikat. Para vampirnya memukau, selayaknya vampir (di kebanyakan cerita). Bukan hanya karena ingin melihat mereka secara langsung, tapi karena bisa dibilang “aku menonton filmnya saja sudah cukup, tak perlu membaca novelnya”. Ya, begitulah.

Aku menyelesaikan Buku Satu The Infernal Devices ini dalam dua hari dengan agak bosan. Kemungkinan karena efek membaca novel dengan jeda yang sangat singkat. Seharusnya kubiarkan cerita dari novel sebelumnya mengendap dulu beberapa hari, baru membaca novel lain.

Novel

Hanya Coretanku tentang Novel Fire

fire_kristin-cashore_gramediaAku menyeret diriku sendiri untuk mengetikkan ini menjelang tengah malam (tepatnya hari Minggu tiga hari yang lalu). Karena kalau aku tidak melakukannya sekarang, aku yakin tak akan pernah melakukannya.

Aku baru saja selesai melahap dengan rakus sebuah novel fantasi berjudul “Fire”. Salah satu novel yang kupinjam dari perpusda hari ini (Minggu 18 Desember) dan menyelesaikannya dalam waktu kurang dari 10 jam hampir tanpa henti. Walaupun minggu lalu aku sudah membaca dua novel—satu novel klasik anak-anak dan satu novel fantasi—setelah sekian lama, sepertinya aku masih lapar akan kenikmatan membaca. Novel fantasi terakhir yang aku baca sebelum Fire adalah Graceling, buku pertamanya. Dan ya, aku meminjam Fire karena penasaran dengan buku keduanya.

Mungkin seharusnya aku bersikap netral saat membaca Fire. Aku masih sangat terpengaruh dengan kisah Graceling yang menurutku cukup unik dan mengesankan. Tapi tentu saja Fire berbeda dengan Graceling. Aku tak menemukan sosok tangguh Katsa dalam diri Fire, tapi Fire tangguh dengan caranya sendiri. Secara pribadi, aku lebih menyukai Graceling karena Bakat yang dimiliki para tokoh utamanya sehingga aku tak perlu terlalu mengkhawatirkan mereka. Juga karena kisah romantisnya. Dalam Fire ada kisah romantis tentu saja, dalam taraf yang berbeda. Sayangnya, pandangan Kristin Cashore tentang hubungan tanpa pernikahan yang terdapat dalam novel-novelnya sangat tidak sesuai dengan budaya di Indonesia.

Yang paling kusukai dari kedua novel Kristin Cashore yang sudah kubaca adalah kisah tentang keluarga dan rasa sayang antarsaudara yang jarang mendapat porsi cukup besar dan disampaikan dengan menarik—menurutku—dalam novel fantasi pada umumnya. Terutama jika lingkupnya keluarga kerajaan. Biasanya yang terjadi dalam keluarga kerajaan adalah saling menjatuhkan atau manis di depan tapi licik di belakang. Tapi dalam Fire dan Graceling benar-benar ada rasa sayang di sana, di antara percekcokan antarsaudara yang biasa terjadi—tanpa usaha saling bunuh—dan digambarkan dengan indah. Kuharap bisa menemukan hal yang sama dalam Bitterblue, buku ketiganya.

Sejujurnya, dunia di Dells tempat kisah Fire berlangsung terasa aneh buatku dan masih aneh hingga halaman terakhir. Mengapa harus ada monster untuk setiap makhluk hidup yang ada di sana? Kalau ada kuda, maka ada monster kuda, serangga dan monster serangga, demikian juga hewan-hewan lain bahkan manusia. Suatu tempat yang sangat jauh berbeda dengan daerah di tujuh kerajaan berkuasa tempat para Graceling berada. Dan kedua wilayah itu hanya dipisahkan dengan pegunungan batu. Yah, pegunungan batu yang sulit dilalui, sebenarnya, yang sepertinya mampu membuat keduanya terisolasi satu sama lain.

Nah, terlepas dari isi ceritanya. Novel terjemahan terbitan Gramedia yang ini sepertinya kurang ketat proses penyuntingannya. Tidak seperti novel terbitan Gramedia biasanya. Banyak kesalahan ketik dan susunan kalimat yang membuat bingung. Beberapa kali aku terpeleset keluar dari cerita karena ini. Hal yang agak tidak menyenangkan saat sedang asyik membaca.