Novel

Hanya Coretanku tentang Novel Fire

fire_kristin-cashore_gramediaAku menyeret diriku sendiri untuk mengetikkan ini menjelang tengah malam (tepatnya hari Minggu tiga hari yang lalu). Karena kalau aku tidak melakukannya sekarang, aku yakin tak akan pernah melakukannya.

Aku baru saja selesai melahap dengan rakus sebuah novel fantasi berjudul “Fire”. Salah satu novel yang kupinjam dari perpusda hari ini (Minggu 18 Desember) dan menyelesaikannya dalam waktu kurang dari 10 jam hampir tanpa henti. Walaupun minggu lalu aku sudah membaca dua novel—satu novel klasik anak-anak dan satu novel fantasi—setelah sekian lama, sepertinya aku masih lapar akan kenikmatan membaca. Novel fantasi terakhir yang aku baca sebelum Fire adalah Graceling, buku pertamanya. Dan ya, aku meminjam Fire karena penasaran dengan buku keduanya.

Mungkin seharusnya aku bersikap netral saat membaca Fire. Aku masih sangat terpengaruh dengan kisah Graceling yang menurutku cukup unik dan mengesankan. Tapi tentu saja Fire berbeda dengan Graceling. Aku tak menemukan sosok tangguh Katsa dalam diri Fire, tapi Fire tangguh dengan caranya sendiri. Secara pribadi, aku lebih menyukai Graceling karena Bakat yang dimiliki para tokoh utamanya sehingga aku tak perlu terlalu mengkhawatirkan mereka. Juga karena kisah romantisnya. Dalam Fire ada kisah romantis tentu saja, dalam taraf yang berbeda. Sayangnya, pandangan Kristin Cashore tentang hubungan tanpa pernikahan yang terdapat dalam novel-novelnya sangat tidak sesuai dengan budaya di Indonesia.

Yang paling kusukai dari kedua novel Kristin Cashore yang sudah kubaca adalah kisah tentang keluarga dan rasa sayang antarsaudara yang jarang mendapat porsi cukup besar dan disampaikan dengan menarik—menurutku—dalam novel fantasi pada umumnya. Terutama jika lingkupnya keluarga kerajaan. Biasanya yang terjadi dalam keluarga kerajaan adalah saling menjatuhkan atau manis di depan tapi licik di belakang. Tapi dalam Fire dan Graceling benar-benar ada rasa sayang di sana, di antara percekcokan antarsaudara yang biasa terjadi—tanpa usaha saling bunuh—dan digambarkan dengan indah. Kuharap bisa menemukan hal yang sama dalam Bitterblue, buku ketiganya.

Sejujurnya, dunia di Dells tempat kisah Fire berlangsung terasa aneh buatku dan masih aneh hingga halaman terakhir. Mengapa harus ada monster untuk setiap makhluk hidup yang ada di sana? Kalau ada kuda, maka ada monster kuda, serangga dan monster serangga, demikian juga hewan-hewan lain bahkan manusia. Suatu tempat yang sangat jauh berbeda dengan daerah di tujuh kerajaan berkuasa tempat para Graceling berada. Dan kedua wilayah itu hanya dipisahkan dengan pegunungan batu. Yah, pegunungan batu yang sulit dilalui, sebenarnya, yang sepertinya mampu membuat keduanya terisolasi satu sama lain.

Nah, terlepas dari isi ceritanya. Novel terjemahan terbitan Gramedia yang ini sepertinya kurang ketat proses penyuntingannya. Tidak seperti novel terbitan Gramedia biasanya. Banyak kesalahan ketik dan susunan kalimat yang membuat bingung. Beberapa kali aku terpeleset keluar dari cerita karena ini. Hal yang agak tidak menyenangkan saat sedang asyik membaca.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s