Komik

Whispers Voices

Banyak harta karun yang belum terjamah (olehku) di rumah. Terutama yang berada dalam laci adik laki-lakiku. Tidak seperti dua kakak perempuannya yang maniak novel, adik kami maniak komik. Terutama komik Doraemon. Tapi entah sejak kapan dia mulai melirik komik genre lain, terutama yang berhubungan dengan kesukaannya pada anjing dan alat musik, juga yang berbau horor atau misteri. Tentu saja hobi barunya berburu komik ini menyenangkanku juga karena aku juga bisa ikut baca. Haha. Selain itu, komik-komik pilihannya termasuk yang tidak biasa.

Salah satu komiknya ada yang berjudul Whispers Voices, karya Misaki Kogawa. Adik perempuanku yang lebih dulu baca dan merekomendasikanku untuk membaca salah satu judul cerita di dalamnya yang menurutnya pasti aku akan suka.

Jadi, aku pun membacanya dan memang aku suka. Ada unsur misteri, tapi juga persahabatan yang indah dan terasa lembut di hati. Lalu, hari ini (Kamis, 22 Desember) aku membaca komik itu lagi dari awal karena ternyata aku belum membaca cerita-cerita lainnya. Adikku membeli komik ini pasti karena di sampulnya ada gambar tokohnya memainkan alat musik.

Komik ini berisi lima cerita. Tiga cerita pertama masing-masing berdiri sendiri. Dua cerita terakhir saling berkaitan. Bagi yang mau meneruskan membaca, di dalam tulisan ini terdapat spoiler.

whispers-voices

Whispers Voices

Cerita pertama yang berjudul Whispers Voices berkisah tentang seorang gadis bernama Akutsu yang bermain terompet dalam klub alat musik tiup. Dia sangat mahir dalam memainkan terompetnya, tapi dia bersikap individual dan menonjol. Karena hal tersebut, dia jadi tidak disukai oleh teman-temannya seklub. Akutsu sedang memikirkan kondisinya di klub itu di tepi bantaran sungai—lokasi menyenangkan yang sering ditampilkan dalam komik maupun anime Jepang. Lalu, dia memainkan musik kesukaannya dengan terompetnya dan perasaannya menjadi lebih baik.

Tiba-tiba di sebelahnya muncul seorang bocah SD yang memainkan drum kecil marching band. Mereka berdua pun beradu memainkan alat musik masing-masing. Entah kenapa wajah dan badan bocah itu terluka dan lebam-lebam. Setelah berapa lama bocah itu tampak tak mampu mengikuti irama terompet. Akutsu pun memainkan sebuah musik masa kecilnya berjudul “Putri yang berlumuran lumpur”. Dia pernah memainkannya bersama teman-teman SD-nya, masa-masa yang menyenangkan baginya. Ternyata si bocah mengenal lagu itu dan bersemangat memainkan drumnya. Wajahnya menjadi ceria, tidak seperti awal dia datang.

Tiba-tiba, muncul gadis tak dikenal yang menyanyikan lirik lagu yang sedang mereka mainkan dengan berlinangan air mata. Lagu yang seharusnya ceria itu dinyanyikan dengan begitu sedih. Akutsu dan si bocah pun melambatkan tempo permainan mereka. Mereka bernyanyi dan bermain musik bersama selama beberapa saat di tepi sungai. Kemudian mereka bercakap-cakap. Gadis SMU yang bernyanyi tadi mengatakan sudah bersemangat lagi dan akan berbaikan dengan pacarnya. Dan si bocah SD juga akan pergi untuk berbaikan, meniru kakak tadi. Namun, Akutsu sepertinya masih tenggelam dalam masalahnya.

Di klub alat musik tiup permainan terompet Akutsu tidak lagi menonjol, tapi dia masih tidak bersemangat. Dia datang lagi ke tepi bantaran sungai, berharap untuk bertemu lagi dengan dua teman tak terduganya, atau mungkin orang lain, jika dia memainkan terompetnya. Namun, tiba-tiba dia merasa malu dengan dirinya sendiri karena berharap orang lain datang untuk menyapanya jika dia memainkan terompet. Dia urung bermain terompet dan berlari pulang. Tapi dia tersandung lalu terjatuh, sebuah bola bisbol mengenai punggungnya. Ternyata bocah drum kecil itu. Dia sedang bermain bisbol di lapangan dekat situ. Luka-luka dan lebamnya waktu itu ternyata karena dia payah bermain bisbol sehingga gagal masuk tim reguler. Kakak SMU yang bernyanyi lewat dekat situ dengan pacarnya dan menyapa mereka. Saat itu Akutsu sudah sadar mengapa dia selalu bermain dengan menonjolkan dirinya.

The Girl Opposite

Cerita berikutnya berjudul The Girl Opposite. Bercerita tentang seorang siswa bernama Habuta yang menaruh perhatian pada siswi yang selalu ditemuinya di kereta dalam perjalanan ke sekolah. Mereka sama sekali tak pernah bertegur sapa. Dua kali siswi itu menolongnya. Pertama, memberitahunya dari jauh saat resleting celananya terbuka. Kedua, dari laki-laki mesum di kereta. Tapi Habuta masih juga belum berani untuk menegur si gadis.

Suatu hari, tanpa sengaja dia mendengar percakapan dua gadis yang ternyata teman sekolah gadis yang menolongnya. Dari situ dia tahu namanya Mana. Mana gadis yang terlalu pemberani dan suka menolong bagi teman-temannya. Saat itu Mana duduk di tempatnya yang biasa dan Habuta berdiri agak jauh karena kondisi gerbong yang ramai. Teman Mana melihat Mana sedang dalam kondisi tidak baik, mungkin ada orang yang sedang mengganggunya. Sebelum kedua teman Mana sempat bertindak, Habuta lebih dahulu menuju tempat Mana duduk. Dia dengan agak susah payah melintas di antara penumpang.

Ternyata ada seorang bapak yang ketiduran berdiri di dekat Mana dan air liurnya hampir menetes. Orang-orang di sekitarnya kebingungan dan Mana sendiri meringkuk tak bergeming. Tanpa pikir panjang Habuta mengulurkan tangannya di atas Mana, menahan air liur yang menetes. Saat turun di stasiun berikutnya, bapak tersebut minta maaf dan memberi dua tiket gratis ke taman bermain. Di situlah Habuta mulai bercakap-cakap dengan Mana.

Habuta berniat memberikan kedua tiketnya untuk Mana. Tapi tiket itu tiket untuk pasangan, jadi Mana tak bisa menggunakannya bersama temannya. Maka, Habuta mengajak Mana ke taman bermain sebagai teman yang berpura-pura sebagai pasangannya. Sebelum menentukan hari, pintu kereta berikutnya yang ditumpangi Habuta telah tertutup. Dari balik pintu kereta, Habuta mengatakan, sampai bertemu besok.

Night Piece

Cerita ketiga berjudul Night Piece. Tentang dua orang sahabat, Momo dan Shino, yang berpura-pura jadi pasangan bodoh di depan guru mereka agar bisa menyelinap di malam hari untuk mencuri kertas soal ujian. Hari sebelumnya mereka sengaja bermain air setelah membersihkan kolam renang sekolah sehingga menjadi flu. Guru-guru mereka akan mengira mereka terbaring sakit setelah pulang sekolah.

Awalnya itu hanya ide Shino, untuk mencuri kertas soal ujian dan mengejutkan Momo dengan nilainya yang bagus. Tapi, Momo tahu Shino menyembunyikan sesuatu darinya. Jadi, Shino membeberkan rencananya untuk menyelinap waktu malam pada Momo yang malah bersemangat sehingga Shino melibatkan gadis itu.

Setelah keluar dari ruang kesehatan mereka bersembunyi di ruang musik. Sayangnya, karena tidak membawa bekal, mereka jadi kelaparan, dan mulai benar-benar sakit, lalu ketiduran setelah mengobrol beberapa lama. Mereka terbangun saat hari sudah malam oleh suara misterius. Karena tertidur di lantai, mereka jadi sungguhan flu, suara mereka yang awalnya hanya serak jadi tidak keluar sama sekali. Shino menyuruh Momo tetap tinggal di ruang musik karena mengkhawatirkannya.

Dalam perjalanan ke ruang guru, Shino memikirkan rencana yang dimaksudkannya untuk mengesankan Momo. Jika Momo sudah tahu rencananya sebenarnya sudah tak ada gunanya lagi. Shino pun berniat kembali dan membatalkan rencananya. Di ruang guru ternyata masih ada seorang guru yang hendak patroli. Shino buru-buru kembali mencari Momo yang tak ada di ruang musik dan mencarinya hingga ke dekat ruang PKK yang lampunya menyala.

Saat Shino pergi, Momo mendengar suara misterius yang tadi mereka dengar dan mencium aroma enak dari ruang PKK. Dia menuju ke sana dan menyelinap masuk, lalu hujan donat ke atas kepalanya sehingga Momo segera keluar karena kaget.  Dia membawa beberapa donat bersamanya dan mendapati Shino sudah kembali.

Melihat kondisi Momo yang demam, Shino meminta maaf karena tidak segera menghentikan demam Momo. Demikian juga Momo meminta maaf karena tidak segera menghentikan Shino. Mereka pun menyelinap pulang. Keduanya merasa senang walaupun tujuan mereka gagal. Setelah Shino pikir-pikir lagi, walau sudah tahu soal ujiannya tetap saja kan harus belajar soal itu. Belum jauh dari sekolah, suara aneh itu terdengar lagi. Tanpa mereka ketahui, itu suara dua guru mereka yang sedang main lempar donat di ruang PKK. (Guru-guru yang aneh.)

Winter Light

Cerita terakhirnya berjudul Winter Light “Rainy” dan Winter Light “Snowy”. Ini cerita yang dikatakan adikku bahwa pasti aku suka. Walaupun setelah aku baca semua ceritanya, aku pun suka semuanya.

Winter Light “Rainy” bercerita tentang seorang anak laki-laki hilang ingatan bernama Subaru yang diterima dengan baik oleh anggota klub berkebun di sekolahnya yang baru. Sebagai anak pindahan, Subaru segera dikenal sebagai anak yang sok dan sombong. Dia pintar tapi lebih senang menyendiri. Kazane, teman sekelasnya, mengajaknya untuk bergabung dalam klub berkebun. Ternyata Kazane mengenal Subaru, walaupun Subaru tak ingat padanya. Menurut Souta, ketua kelas di kelas Subaru, anggota klub berkebun itu aneh. Dari cara mereka berbicara yang seperti orang dewasa dan mereka tampak misterius.

Subaru tak tahan dengan kebisingan, tapi dia menyukai hujan karena hujan membuat suara bising di sekitarnya menghilang. Dan di antara suara hujan terdengar bisikan yang seakan berbicara padanya.

Kecurigaan Souta pada anggota klub berkebun tidak salah. Di suatu hari yang bersalju, menjelang akhir semester, mereka tiba-tiba menghilang. Sebelum pergi, Kazane meninggalkan saputangannya dan sebuah benda seperti potongan puzzle pada Subaru.

Cerita berlanjut pada Winter Light “Snowy” ketika Subaru sudah SMP. Subaru masih sering lewat dekat halaman SD nya saat berangkat sekolah. Dia selalu teringat di tempat itulah dia terakhir kali bertemu teman-teman klub berkebun yang mengubur time capsule mereka. Saat dia berangkat sekolah hari itu, dia melihat seseorang di sana, sepertinya seseorang yang dia kenal, mungkin Kazane. Sayangnya Souta menimpuknya dengan tas sehingga orang itu menghilang saat Subaru menoleh lagi.

Ternyata orang itu bukan Kazane, tapi salah satu teman lain dari klub berkebun. Dia menjelaskan alasan kedatangannya yaitu untuk menjemput Subaru karena sepertinya ingatan Subaru sudah mulai pulih. Dia menyampaikan pesan dari Kazane yang menyampaikan terima kasih pada Nenek yang selama ini merawat Subaru. Nenek Subaru pun bercerita pada Subaru dan Souta tentang asal mula dia menemukan Subaru.

Kepingan puzzle yang diberikan Kazane pada Subaru adalah kunci untuknya kembali. Souta sudah menebak bahwa Subaru dan yang lain bukan berasal dari bumi. Subaru harus kembali ke tempat asalnya karena tubuhnya tak akan bertahan lebih lama lagi di bumi. Dia salah satu yang paling kuat dari yang lain sehingga bisa bertahan selama ini.

Salah satu hal yang kusayangkan adalah time capsule yang dikubur oleh klub berkebun tidak mendapat sorotan lebih. Sepertinya hanya sebagai alasan untuk mengundang Subaru datang supaya mereka secara tidak langsung bisa berpamitan, atau yang lebih baik lagi, Subaru ikut pulang bersama mereka. Jadi, time capsule itu masih di sana. Bukan hal penting sepertinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s