Tentang Buku

Belanja Buku Akhir Tahun 2017

Bulan Desember yang lalu saya tiba-tiba pengen banget beli novel. Sepertinya karena sudah lama nggak beli novel. Maka, saya mengajak adik perempuan untuk menemani ke toko buku. Biasanya kami beli buku pada kesempatan-kesempatan khusus seperti di pameran atau bazaar buku. Mencari buku murah berkualitas. Tapi memang banyak buku bagus yang tidak mungkin dijumpai di event macam itu.

Kami pun tenggelam di antara jajaran rak-rak buku yang sangat menggoda. Setelah beberapa jam—waktu di toko buku sepertinya tidak berjalan sama seperti di dunia luar—mondar-mandir dari rak ke rak, belanjaan kami di luar dugaan. Dia yang nggak niat beli buku akhirnya ikutan beli juga, lebih banyak malah. Kalau kami tidak menahan keinginan untuk melihat-lihat, sepertinya kami akan jatuh lebih jauh lagi dalam “dosa”. Bersyukur, transaksi pembayaran dilakukan dengan kartu debit BNI sehingga dapat potongan 10% (ini bukan iklan).

img_20171223_232247_1361572565205.jpg

Buku-buku yang kami beli sebagian besar buku fantasi dan buku anak, serta beberapa komik. Totalnya 23 buku, termasuk di dalamnya satu paket seri cerita pendek Enid Blyton berisi 8 buku. Semoga saya bisa membuat ulasan semua buku itu ;D

Novel

Target dan Tantangan Membaca Goodreads

Tahun 2017 sudah berlalu, ada beberapa target yang belum tercapai, ada juga yang tercapai. Target yang sudah tercapai yaitu Goodreads Reading Challenge 2017, di mana saya berhasil mencapai bahkan melebihi target membaca 30 buku selama tahun 2017. Yay! *background suara tepuk tangan* Total buku yang saya baca adalah 37 buku. Klik di sini untuk daftar lengkapnya.

Goodreads 2017

Keinginan membaca saya tetap mengalami pasang surut. Sepertinya ada pola yang berulang setiap tahun. Awal hingga pertengahan tahun keinginan membaca sedang gencar-gencarnya, lalu mulai menyusut mendekati akhir tahun. Saya tidak tahu persis kenapa dan apa sebabnya. Apakah tahun ini pun akan mengalami pola yang sama? Hm…

Selanjutnya, untuk target membaca tahun 2018, saya menaikkan target menjadi 35 buku. Apapun rintangan yang menghadang nantinya, saya harus bisa mencapai target itu. Kadang, bacaan berupa komik (manga) cukup membantu untuk mencapai target. Mungkin bisa dibilang “curang” sih ya. Tapi kan komik juga buku. Tahun lalu juga ada beberapa komik yang saya baca, tapi tidak semuanya dimasukkan di rak Goodreads. Karena ada komik yang saya baca di tempat saat di perpusda dan posisi saat itu tidak bawa ponsel, setelah itu langsung lupa nama pengarang dan judulnya, atau waktu saya cari di Goodreads tidak ketemu.

Goodreads 20178

Target lainnya adalah membuat review buku-buku yang sudah saya baca. Ini salah satu target yang belum tercapai tahun lalu. Padahal saya menargetkan setidaknya di tahun 2017 isi blog ini bisa mencapai 25 tulisan. Tapi hanya kurang 2 malah terhenti di bulan September. Tahun ini harus lebih rajin lagi.

Target lain yang belum tercapai tidak berhubungan dengan literasi, yaitu melakukan free handstand dan menahannya selama 10 detik. Kalau dipikir-pikir lagi, target ini lumayan berat. Haha. Waktu itu saya kepedean saat membuat target ini untuk dicapai hanya dalam waktu 2 bulan (dari akhir Oktober hingga tahun baru 2018). Tapi setidaknya ada kemajuan, walaupun sedikit. Saya sudah bisa handstand walaupun belum berani menjauh dari tembok. Untuk target awal tahun depan saya malah kepikiran untuk mengubahnya jadi press handstand. Prosesnya lebih berat dan juga lebih menyenangkan (lelahnya). Yang saya butuhkan hanya satu: pelatih, terutama untuk mencapai target lebih cepat.

Itulah target-target saya di tahun 2017 lalu dan tahun 2018. Semoga semangat literasi ini terus membara dan bisa menular ke seluruh penjuru negeri 😀

Novel

​Cell (Seluler) – Stephen King

Saya sudah lama pengen baca novelnya Stephen King. Terutama karena film-filmnya yang keren. Tapi ternyata susah dapat novelnya di perpusda atau saya yang kurang berusaha untuk cari. Hampir dua minggu yang lalu akhirnya saya dapat juga salah satu novelnya yang berjudul Cell (Seluler). Cell ini sebuah novel science fiction yang bisa digolongkan dalam zombie apocalypse

Sebuah fenomena yang disebut dengan Gelombang menyebar melalui ponsel, mengubah manusia menjadi liar. Clayton Riddell sedang berada di tengah kota Boston saat bencana itu terjadi. Ia melihat keadaan yang normal tiba-tiba berubah kacau di depan matanya. Ia pun langsung teringat pada istrinya Sharon dan putranya Johnny yang sedang berada di Maine, ratusan kilometer dari tempatnya berada. 

Clay berusaha untuk pulang ke Maine dengan beberapa orang yang selamat. Berjalan dalam gelap dan bersembunyi saat siang karena siang hari dikuasai oleh manusia-manusia ponsel, Clay dan teman-teman seperjalanannya, Tom dan Alice, berjuang mengatasi kengerian dan kehilangan, menjaga agar diri mereka sendiri tetap waras. 

Sebuah petunjuk mengarahkan mereka ke KASHWAK = NO – FO. Sebuah tempat yang memberikan harapan atau ancaman?

Saat membaca Cell, dalam pikiran saya langsung terlintas World War Z dan I’m Legend. Dua film zombie apocalypse itu merupakan favorit saya. Walaupun manusia-manusia ponsel dalam Cell tidak terinfeksi oleh virus aneh, tetap saja mirip. Bedanya, otak manusia yang di-reset melalui pancaran gelombang ponsel sehingga menjadi liar dan memiliki kesadaran kolektif. 

Cerita seperti ini memang lebih seru kalau nonton filmnya. Bisa dibilang saya baca cepat dan kurang menikmati. Selain itu, banyak lelucon tentang buku maupun film Amerika yang nggak saya pahami. Tapi karena saya bertahan baca sampai akhir dan termasuk maraton juga, novel ini saya beri 3 bintang di Goodreads. Itu karena saya penasaran sama evolusi yang terjadi pada manusia ponsel dan teori-teori yang dikemukakan oleh Jordan, bocah penggemar video game dan komputer yang bergabung dengan Clay. 

Sebenarnya, untuk cerita zombie apocalypse—jika dibandingkan dengan dua film yang saya sebut di atas—Cell kurang mengejutkan dan terlalu biasa. Semoga saya bisa dapat novel lain Stephen King yang lebih menarik. 

Detail buku:

Cell (Seluler) oleh Stephen King

Diterbitkan 2008 oleh PT. Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 9789792239102 

Novel

The Bookaholic Club #1 – Poppy D. Chusfani

The Bookaholic Club

Saya punya buku keduanya The Bookaholic Club: Hantu-hantu Masa Lalu. Saya kira itu buku pertama. Jadi saya baca buku keduanya dulu baru buku pertamanya. Buku yang pertama saya pinjam di perpusda. Gaya penceritaannya nggak jauh beda.

Buku pertama menceritakan pertemuan empat remaja perempuan berbeda karakter yang hobi baca buku. Des penyihir. Tori gagap dan culun. Chira bisa melihat hantu. Erin luar biasa cantik dan populer.

Ternyata pertemuan dan persahabatan mereka ada yang mengatur. Walaupun begitu mereka tidak menyesal telah bertemu. Namun, ada tugas mengerikan yang harus mereka hadapi untuk menyelamatkan nyawa orang-orang di sekitar mereka, bahkan membahayakan nyawa mereka sendiri.

Novel ini seharusnya bisa jadi lebih seru dan lebih asyik. Menurut saya lebih banyak tell daripada show, terutama saat masing-masing tokoh menjelaskan latar belakang keluarganya. Dan kenapa sih Mbak Poppy menggunakan POV 1 dari keempat tokohnya? Kenapa nggak pakai POV 3 aja sekalian? Memang ada beberapa novel yang berganti-ganti POV, tapi nggak sebanyak ini. Empat, bayangkan. Di buku keduanya pun sama saja.

Untuk karakterisasinya memang bagus. Pribadi masing-masing tokoh, terutama tokoh utama, tergambar dengan jelas. Selain itu, ada bagian yang kocak tentang kehidupan anak remaja. Untuk gaya bahasa agak kaku. Niatnya mungkin mau dibuat seperti novel remaja terjemahan, tapi kurang berhasil. Saat menghadapi Bayangan juga kurang menegangkan. Alur ceritanya terlalu cepat dan kurang berasa. Jadi, yang paling saya suka dari novel ini adalah karakter keempat tokoh utamanya dan persahabatan mereka.

Saya agak sedih karena ternyata ada 3 halaman (7-12) yang hilang dari novel ini. Saya nggak cek waktu pinjam. Hiks.

 

The Bookaholic Club oleh Poppy D. Chusfani

Diterbitkan 2007 oleh PT. Gramedia Pustaka Utama

ISBN 9792232362

Novel

Le Masques – Indah Hanaco

Les Masques

Akhirnya nemu novel Indonesia yang nggak biasa. Bosan sama teenlit dan sejenisnya yang cinta-cintaan. Selain itu, gaya bahasanya juga nggak alay.

Fleur Radella, berdarah blasteran, cantik dan menarik tapi lebih memilih untuk tidak menonjol. Sejak kecil disia-sia oleh neneknya karena kelahirannya tidak diinginkan, tapi terutama karena ibunya meninggal setelah melahirkan Fleur. Punya sifat pemalu dan tertutup karena masa lalu kelam yang melahirkan tiga jiwa yang berbeda dalam dirinya.

Elektra Valerius, jiwa yang berani dan sering mengambil alih kesadaran Fleur untuk membuka jalan kesuksesan bagi Fleur, keputusan yang tidak akan berani diambil oleh Fleur sendiri. Beberapa tindakan Elektra kelewat batas, asal membuat Fleur bahagia.

Tatum Honora, gadis pemurung yang sering berpikiran negatif dan menjadi teman tukar pendapat Elektra. Tatum lebih suka menyendiri.

Adam Dewatra, hanya sekali muncul saat keadaan mendesak dan menunjukkan diri pada Elektra dan Tatum di akhir cerita untuk membantu Tatum.

Continue reading “Le Masques – Indah Hanaco”

Novel

Dari Arsip Campur Aduk Mrs. Basil E. Frankweiler – E. L. Konigsburg

Dari arsip campur aduk Mrs Basil E Frankweiler

Novel ini mengingatkan saya pada Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken. Mungkin karena tokohnya dua bersaudara perempuan dan laki-laki, melibatkan petualangan, rahasia, seorang wanita tua yang nyentrik, dan hasil korespondensi yang dibukukan. Selain kesamaan itu, ceritanya benar-benar berbeda.

***

Claudia memutuskan untuk kabur dari rumah. Ia merencanakannya dengan sangat hati-hati. Ia juga memilih teman kabur yaitu Jamie, adik laki-lakinya kedua termuda. Claudia punya tiga adik laki-laki dan menurutnya Jamie yang paling tepat untuk diajak kabur karena anak itu pelit dan pasti punya uang. Kabur dari rumah kan butuh uang, ia sendiri menabung untuk itu.

Ketika saat yang ditentukan tiba, Claudia dan Jamie pun pergi ke Museum Seni Metropolitan di New York. Tujuan kabur yang nyaman, mereka tinggal di sana tepat seperti yang direncanakan. Claudia yang mengatur kegiatan mereka selama kabur dan Jamie yang mengatur keuangan. Banyak hal yang bisa mereka pelajari di museum, jadi mereka tidak bosan. Tapi Claudia tidak puas, ia ingin merasakan sesuatu yang berbeda.

Continue reading “Dari Arsip Campur Aduk Mrs. Basil E. Frankweiler – E. L. Konigsburg”

Novel

Konrad si Anak Instan – Christine Nöstlinger

Konrad Si Anak Instan

Mrs. Berti Bartolotti mendapat kiriman paket berukuran besar. Ia tak tahu apa isi paketnya. Walaupun ia memang sering mengirim formulir dan kupon barang, ia merasa tak pernah memesan apapun dengan ukuran sebesar itu yang beratnya sekitar 20 kg. Ia membuka tutup kaleng dan sangat terkejut mendapati seorang anak di dalamnya. Anak laki-laki itu bernama Konrad, usianya tujuh tahun. Dan ia anak instan buatan pabrik, lengkap dengan surat-surat.

Mrs. Bartolotti merasa senang karena tiba-tiba mendapat anak. Apalagi Konrad bukan anak biasa, ia manis, baik hati, penurut, dan sangat pintar. Anak laki-laki idaman setiap orang tua. Mrs. Bartolotti sangat menyayangi Konrad, demikian juga sebaliknya walaupun Mrs. Bartolotti bukan tipe ibu yang baik. Suaminya sudah lama pergi entah ke mana, ia dipandang sebagai wanita aneh oleh orang-orang di sekitarnya karena penampilannya nyentrik. Ia juga tak tahu apa yang benar-benar dibutuhkan anak laki-laki berusia tujuh tahun.

Namun, untunglah ada Mr. Egon, apoteker sahabat Mrs. Bartolotti yang ingin menjadi ayah Konrad dan memahami betul kebutuhan anak laki-laki berusia tujuh tahun. Seperti sekolah beserta perlengkapannya, pergi berjalan-jalan, dan makanan sehat.

Continue reading “Konrad si Anak Instan – Christine Nöstlinger”