Novel

Madicken dan Lisabet – Astrid Lindgren

madicken-dan-lisabet

Saya sering sekali mendengar tentang Astrid Lindgren dan buku-bukunya. Penulis asal Swedia ini sangat populer dengan cerita anak-anak. Namun, saya jarang membaca karyanya jika dibandingkan dengan karya Enid Blyton dan Roald Dahl. Pippi Longstocking merupakan novelnya yang tidak selesai saya baca. Lucu sih, tapi tingkah gadis kecil itu agak berlebihan menurut saya. Mungkin kapan-kapan saya mau baca lagi. Madicken dan Lisabet direkomendasikan oleh adik saya karena menurutnya saya pasti suka.

Madicken dan Lisabet adalah kakak beradik yang manis dan ceria walaupun kadang berkata-kata sesuka hati mereka. Tempat tinggal mereka disebut Junibacken, di rumah merah di tepi sungai bersama kedua orang tua mereka dan Alva, seorang gadis pembantu rumah tangga yang sangat sayang pada kedua gadis kecil kebanggaan Junibacken.

Tetangga mereka adalah Bapak dan Ibu Nelsson dan putra mereka, Abbe, yang pandai membuat kue manis. Madicken sering berkunjung ke rumah mereka dan mengobrol dengan Abbe. Pak Nelsson lebih sering mabuk-mabuk sementara Bu Nelsson yang bekerja menjual kue manis buatan Abbe. Menurut saya sangat menarik bagaimana keluarga Nelsson diceritakan dari sudut pandang gadis kecil yang dengan tulus menyayangi mereka.

Banyak kejadian lucu dan menyenangkan yang dialami Madicken dan Lisabet, ada juga yang menegangkan. Komentar-komentar yang mereka lontarkan kadang tidak masuk akal dan bikin ketawa. Paling seru mengikuti kisah Madicken dan teman sekelasnya, Mia. Mereka sering bertengkar dan berkelahi, bahkan saling tantang untuk berjalan di atap sekolah. Tapi berkat kutu rambut, mereka pun menjadi akur. Kisah yang manis sekali.

 

 

Detail buku:

Madicken dan Lisabet oleh Astrid Lindgren

Diterbitkan 2003 (cetakan ketiga) oleh Gramedia Pustaka Utama

Pertama kali terbit 1976, Stockholm

Novel

Di Mana Kirana? – Palris J. Ippal

di-mana-kirana

Saya dan adik saya sudah mau pulang dari perpus daerah, tapi ternyata hujan masih turun. Jadi, kami kembali ke lantai dua dan membaca di ruang fiksi anak. Waktu itu ada rombongan entah dari mana, jadi ruang fiksi anak ramai sekali. Tapi masih ada kursi kosong buat kami.

Saya mengambil dua novel lumayan tipis dari rak. Salah satunya berjudul Di Mana Kirana? karya Palris J. Ippal, satunya lagi Sekoci Penyelamat Antariksa karya Djokolelono. Novel pertama saya ambil karena tertarik setelah membaca ringkasan di sampul belakangnya. Untuk bacaan sambil menunggu hujan reda, novel ringan remaja ini rasanya lebih cocok.

Kim setiap malam bermimpi tentang Kirana, sepupunya. Dalam mimpi itu Kirana meminta tolong pada Kim untuk menguntai kembali kalung mutiara pemberian ayahnya yang rusak. Kim  merasa sangat terganggu dengan mimpi itu sehingga dia mengubah pola tidurnya.

Kim sudah lama tidak berjumpa dengan Kirana karena sepupunya yang cantik itu gemar sekali berpetualang. Kedua orangtua Kirana sudah berpisah. Ibunya seorang pengusaha di Singapura dan tidak terlalu peduli ke mana Kirana pergi, sedangkan ayahnya kembali ke Prancis.

Continue reading “Di Mana Kirana? – Palris J. Ippal”

Novel

The Graveyard Book – Neil Gaiman

the-graveyard-book

Keluarga Bod—ayah, ibu, dan saudarinya—dibunuh saat Bod masih bayi. Bod yang merangkak dengan kaki dan tangan bayinya ke pemakaman di dekat rumahnya berhasil selamat. Terutama karena perlindungan dari para hantu di sana dan Silas yang menjauhkan si pembunuh.

Sejak saat itu Bod diangkat anak oleh Mr dan Mrs. Owens, pasangan hantu suami istri yang semasa hidupnya tak mempunyai anak, dan mendapatkan namanya, Nobody Owens. Sedangkan Silas, bukan hantu bukan juga manusia, menjadi walinya. Bod mendapat Kebebasan Pemakaman sehingga dia bebas berkeliaran di pemakaman seperti hantu. Tapi dia dilarang keluar karena penjahat yang mencarinya ada di luar sana. Dan karena para hantu tak mungkin bisa melindunginya di luar pemakaman, bahkan Silas pun tak bisa selalu melindunginya.

Banyak hal yang dialami Bod selama tinggal di pemakaman. Petualangannya selalu tak terduga. Dia mengenal setiap penghuni pemakaman, belajar banyak hal dari Silas, Miss Lupescu, dan guru-guru hantunya. Dia menjelajah ke setiap sudut pemakaman, ke tempat-tempat yang tak pernah didatangi manusia, bahkan hantu sekalipun. Bod tumbuh menjadi anak yang penurut, tapi ada kalanya dia secara tak sengaja terlibat dalam masalah. Lalu, semakin bertambah usianya, semakin bertambah pula rasa ingin tahunya mengenai masa lalunya yang masih dirahasiakan darinya. Tumbuh besar di pemakaman membuat cara pandang Bod dalam menyikapi hal-hal yang terjadi di sekitarnya berbeda dengan anak-anak seusianya. Seakan dia menyerap kebijaksanaan beratus-ratus tahun.

Selain hantu-hantu, dia juga pernah berteman dengan seorang gadis kecil—bukan hantu—bernama Scarlett yang berkunjung ke pemakaman dengan orangtuanya. Sayangnya Scarlett kemudian pindah ke luar kota karena pekerjaan ayahnya. Namun, peran Scarlet ternyata tak hanya sampai di situ, seperti beberapa hal lain yang terjadi pada Bod yang saya ketahui perannya setelah diceritakan kemudian. Neil Gaiman dengan cerdas meramu semuanya.

Tokoh favorit saya adalah Liza, Elizabeth Hempstock. Kuburannya tidak bernisan karena dia mati ditenggelamkan dan dibakar karena dituduh penyihir. Sebagai hantu yang tubuhnya dimakamkan di tanah yang tidak disucikan, dia tidak terikat oleh peraturan pemakaman, jadi bebas keluar masuk sesukanya. Liza sangat blak-blakan dan walaupun terdengar ketus, dia sangat peduli pada Bod.

Adegan favorit saya adalah saat Bod dan Scarlett yang masih berusia lima tahun masuk ke makam kuno di dalam bukit. Tentu saja ada makhluk penjaga di sana. Tapi Bod dengan berani mengabaikan makhluk itu. Yah, apa yang perlu dia takuti jika semasa hidupnya tinggal bersama hantu-hantu? Bahkan Scarlett pun tidak terlalu takut, kepolosan anak kecil mungkin, dan karena dia percaya pada Bod.

Banyak hal misterius dalam cerita ini. Tentang tradisi tarian di Old Town yang cukup heboh, tapi mudah dilupakan. Juga hal yang dilakukan Silas dan Miss Lupescu di luar pemakaman yang hanya disinggung sedikit. Benar-benar nanggung menurut saya.

Buat saya cerita The Graveyard Book keren. Walaupun cerita ini kesannya suram, saya bisa ketawa-ketawa sendiri di bagian yang mungkin buat orang lain tidak lucu. Bukan karena lucu sebenarnya, tapi lebih karena unik.

 

Detail buku:

The Graveyard Book oleh Neil Gaiman

Diterbitkan 2013 oleh PT Gramedia Pustaka Utama

(diterbitkan pertama kali 2008)

ISBN: 9780979-229460-6

Novel

Cinta/Pergi – Herjuno Tisnoaji

cinta-pergi_herjuno

Akhirnya saya baca novel ini juga, setelah tiga tahun penerbitannya. Baru sempet, baru inget, baru nemu, baru pengen baca? Yaah… yang penting akhirnya saya baca juga. Ini novel salah satu teman penulis di Kekom dan LCDP, salah seorang yang mendukung tulisan saya di grup kepenulisan itu melalui komentar-komentarnya.

Sebelum baca buku ini, saya sudah tahu ada permasalahan di balik penyuntingannya. Sejauh apa penyunting mengotak-atik naskah novel ini sebelum terbit, saya tidak tahu. Sudah cukup banyak ulasan tentang itu di Goodreads jika ingin membaca lebih detailnya. Saya cuma mikir, penyuntingnya kerja apa sih, karena banyak sekali typo bertebaran yang membuat kenyamanan membaca jadi terganggu.

Konsep ceritanya cukup sederhana. Tentang dua remaja, Reizo si berandalan dan Florina si gadis yang ceria. Reizo dengan permasalahan dalam keluarganya, Florina dengan alibinya mendekati Reizo. Pertemanan dengan Florina perlahan-lahan mengubah sudut pandang Reizo mengenai keluarga dan hidupnya.

Menarik sebenarnya, tapi cara penyampaian ceritanya kurang mendetail. Banyak hal yang tidak dideskripsikan dengan jelas, seperti suasana tempat, ekspresi, dan fisik tiap tokohnya. Jadi kesannya kurang dalam. Malah ada hal-hal tidak terlalu penting yang justru diulang-ulang.

Penulis menggunakan sudut pandang Reizo sebagai orang pertama, maka pikiran Reizo terpampang jelas bagi pembaca, namun buat saya kurang terasa gregetnya. Gaya bahasa yang digunakan memang tidak seperti novel-novel teenlit kebanyakan dengan bahasa gaul metropolitannya karena notabene penulis adalah warga Yogyakarta. Jadi, saya bisa menikmati membaca novel ini (terlepas dari hal teknis tadi). Walaupun begitu, ada beberapa penggunaan kata yang menurut saya kurang pas dan bisa diganti dengan kata lain yang lebih umum digunakan.

Saya kagum pada karakter Florina dengan sifatnya yang ceria, baik, dan pantang menyerah. Karakternya sesuai dengan warna sampul novel ini. Hanya saja, saya menyayangkan keputusan yang dia ambil di akhir cerita. Akhir cerita ini jadi twist yang sukses, tapi kenapa dia sekejam itu pada Reizo—mungkin juga kejam pada dirinya sendiri—setelah banyak hal yang mereka alami? Dan kalau dipikir-pikir lagi seharusnya bisa dibuat alternatif ending lain yang tidak terlalu maksa jadi twist, tapi tetap bisa jadi twist yang lebih “manis”.

Kesimpulannya, cerita Cinta/Pergi bisa jadi novel yang lebih baik. Jika dibandingkan dengan karya-karya lain Juno yang sudah saya baca, saya tahu potensi Juno jauh lebih besar dari ini dan tentunya saya menunggu novel-novel Juno berikutnya.

By the way, saya merasa aneh dengan pemilihan nama tokoh utama laki-laki, Reizo. Aneh saja.

 

Detail buku:

Cinta/Pergi oleh Herjuno Tisnoaji

Diterbitkan 2014 oleh Moka Media

Antologi Puisi

Astromantic – Jessica Permatasari Handoyo

Astromantic_Jessica Permatasari cover.jpg

Dari banyak buku kumpulan puisi di rumah, saya hampir tak membaca satu pun. Pernah mencoba membaca satu atau dua buku, tapi entah kenapa kurang sreg. Ada puisi-puisi yang saya suka, tapi belum keseluruhannya di satu buku. Buku-buku itu bukan punya saya, tentu saja, tapi punya Ayahanda. Buku puisi yang saya punya cuma satu, Sambil Jalan karya Landung Simatupang.

Kemudian saya melihat buku ini, Astromantic, antologi puisi pertama yang ditulis Jessica Permatasari Handoyo bersama beberapa kawan, Alfred Abidondifu, Alma Linggar Jonarta, A. M. Ramdan, dan Dwi Marleni. Gambar sampulnya manis, ukuran dan jenis hurufnya pas. Kebanyakan buku kumpulan puisi—yang saya tahu—gambar sampulnya kurang mengundang, ada juga yang hurufnya terlalu kecil, spasinya terlalu rapat, atau hal teknis lainnya yang membuat saya kurang berminat membacanya.

Namun yang terpenting, puisi-puisi dalam Astromantic bisa saya nikmati. Bisa dibilang sesuai dengan selera saya. Gaya bahasa yang digunakan lugas, mengena di hati, dan mudah dicerna—sejauh yang sudah saya baca hingga tulisan ini dibuat. Ketika membacanya saya bisa membayangkan berada di padang luas dengan angin sepoi yang menggoyangkan rerumputan dan dedaunan di bawah langit biru berhiaskan awan cirrus yang lembut. Membiarkan perasaan hati ini mengembara bersama angin.

Detail buku:

Astromantic oleh Jessica Permatasari Handoyo

Diterbitkan 2014 oleh Indie Book Corner

Novel

Little Men – Louisa May Alcott

little-men_louisa-may-alcott

Little Men merupakan buku ketiga dari seri Little Women karya Louisa May Alcott. Kisah klasik ini bercerita tentang sekolah khusus anak-anak yang didirikan Bapak dan Ibu Bhaer di Plumfield. Kedua orang baik hati itu mengasuh anak-anak lelaki dan beberapa anak perempuan.

Ada beragam ulah anak-anak yang diceritakan di buku ini. Kita juga diajak untuk mengenal karakter tiap anak yang berbeda satu sama lain. Nat yang pemalu dan pandai bermain biola, Tommy yang pandai berbisnis dan mudah bergaul dengan siapa saja, Stuffy yang gemar makan, Demi yang cerdas dan suka berimajinasi, Daisy—kembaran Demi—yang baik hati dan lemah lembut, Nan yang tomboi dan selalu ingin dilibatkan dalam semua permainan anak lelaki, Dan yang besar di jalanan dan punya minat khusus pada alam, serta anak-anak lain yang meramaikan Plumfield.

Kesabaran dan kasih sayang dari Pak dan Bu Bhaer dalam mendidik dan menghadapi mereka sangat menginspirasi. Selain belajar di kelas, hari-hari di Plumfield diisi juga dengan kegiatan-kegiatan seperti berkebun, pesta kecil-kecilan, dan merawat hewan-hewan peliharaan. Beberapa bagian cerita membuat saya terharu. Tapi ada juga bagian yang menurut saya terlalu berlebihan, terutama jika menyangkut Bess, gadis kecil berambut pirang yang jadi kesayangan semua orang. Dia putri kecil yang membuat semua anak ingin selalu dekat dengannya dan menyenangkan hatinya.

Saya perlu waktu lumayan lama—sekitar dua minggu—untuk membaca Little Men. Di hari-hari awal saya bisa membaca beberapa bab sekaligus, tapi lama-kelamaan jadi jenuh. Mungkin karena hampir tiap babnya bisa dibilang berdiri sendiri walaupun secara keseluruhan saling berkesinambungan. Konfliknya pun sederhana saja karena bercerita tentang hari-hari di Plumfield. Jadi, saya lebih bisa menikmati ceritanya saat membaca satu bab setiap hari.

 

Detail Buku:

Little Men oleh Louisa May Alcott

diterbitkan 2011 oleh Penerbit Atria

(pertama kali diterbitkan 1871)

 

 

Novel

The Queen Must Die – Gadis Penjelajah Waktu

the-queen-must-die

Saat sedang mencari sebuah buku kumpulan cerpen di perpusda, aku menemukan dua seri novel yang berjejeran di rak buku. Jadi, aku pun menghentikan pencarian dan memutuskan untuk meminjam The Queen Must Die, seri satu dari Chronicle of the Tempus. Seri duanya akan kupinjam pada kesempatan berikutnya.

Judul novel karya K. A. S. Quinn ini terjemahan bahasa Indonesianya nggak nyambung, dari The Queen Must Die jadi Gadis Penjelajah Waktu. Aku tidak tahu apa alasannya walaupun memang ceritanya tentang seorang gadis yang berpindah ke masa lalu.

Katie Berger-Jones-Burg mendapat penglihatan orang-orang yang tak dikenal di jalanan kota New York. Dia ingin menceritakannya pada seseorang, tapi dia tak punya teman dekat dan orang yang dipercaya untuk diajak bicara. Ibunya seorang penyanyi pop terkenal yang gemar gonta-ganti pacar dan jarang di rumah, sedangkan ayahnya sudah menikah lagi. Katie lebih sering menghabiskan waktu dengan membaca di kolong tempat tidurnya.

Saat Katie sedang membaca buku yang berisi surat-surat Putri Alice, salah satu putri Ratu Victoria, ia ketiduran dan sesuatu yang aneh terjadi. Ia terbangun di kolong sebuah sofa di istana Buckingham. Putri Alice menemukannya di sana dan menyembunyikannya dari para penghuni istana. Katie telah berpindah ke masa lalu. Ia mengira itu hanya mimpi dan ia akan terbangun kembali di kolong tempat tidurnya. Tapi ternyata tidak.

Katie pun berteman dengan Putri Alice dan James, anak dokter kerajaan. Mereka bersama-sama mencari cara untuk mengembalikan Katie ke masanya. Dalam usaha sembunyi-sembunyi itu, mereka memergoki kelompok Gelombang Hitam yang memasuki wilayah istana dan merencanakan pembunuhan Ratu. Tak hanya itu, ada makhluk aneh dengan kekuatan gaib yang turut bekerja di baliknya. Salah satunya adalah Bernardo DuQuelle, sekretaris pribadi Pangeran Albert, yang menurut Katie dapat membantunya kembali ke masanya atau membunuhnya.

Selama di istana, Katie berbagi makanan dengan Putri Alice. Tidak seperti kisah tentang putri atau pangeran lainnya yang pernah kubaca, Putri Alice sepertinya tidak mendapat banyak makanan. Dia juga sering dihukum oleh pengasuh sekaligus guru pribadinya yang pilih kasih.

Ternyata Katie tidak datang ke masa lalu dengan sendirinya, tetapi “dipanggil”. Penjelasan tentang ini baru muncul agak jauh di tengah cerita, berikut makhluk gaib yang menyebabkannya. Dari sini masalahnya menjadi semakin kompleks. Kekuatan (sekelompok) makhluk yang sepertinya dari dimensi lain itu memanggil tiga anak yang mempunyai bakat melakukan perjalanan menembus waktu, salah satunya Katie.

Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab di seri pertama ini, terutama tentang DuQuelle dan kaumnya, juga tentang anak-anak lain yang menjelajah waktu. Selain Katie, masih ada dua anak lain, tapi hanya disinggung sedikit tentang mereka di sini. Tidak banyak aksi mendebarkan yang melibatkan kaum DuQuelle, terutama karena Katie lebih sering bersembunyi dan hanya berinteraksi dengan Putri Alice dan James. Fokus utama mereka adalah menggagalkan rencana pembunuhan Ratu.

Seri pertama dari trilogi Chronicles of the Tempus ini selain menyajikan fantasi dan misteri juga memberikan informasi sejarah pada zaman Ratu Victoria. Keluarga kerajaan yang menjadi tokoh dalam cerita ini benar-benar ada, serta proyek Istana Kristal yang dikomandoi oleh Pangeran Albert. Selain itu, cerita tentang persahabatan yang terjadi antara Katie, Putri Alice, dan James juga menarik. Penerimaan Putri Alice terhadap Katie saat mereka pertama kali bertemu menurutku agak terlalu mulus, sedangkan James awalnya tidak memercayai Katie. Melalui kejadian yang terjadi di istana, mereka pun menjadi teman. Bagian yang paling aku suka adalah ketika Katie dan James mulai bertengkar, maka Putri Alice akan menengahi mereka dengan gaya bangsawannya yang tak bisa dibantah.