Komik

When You Wish Upon A Star – Takanori Nakagawa

Akhir-akhir ini setiap kali datang ke perpusda, buku yang saya ambil adalah komik dan langsung baca di tempat. Biasanya cari komik romantis yang ceritanya bagus. Saya dan adik sepakat kalau cerita romantis dari komik lebih asyik dinikmati daripada novel. Kami berdua sama-sama tidak terlalu suka baca novel romantis.

Saya sering bingung kalau mau mengulas komik, yang ada malah menceritakan kembali. Yah, ini sebenarnya untuk saya baca sendiri sebagai pengingat walaupun rasanya tentu berbeda dengan baca komiknya langsung. Jadi, kalau tidak mau spoiler, jangan baca ulasan saya tentang komik.

Beberapa minggu lalu saya menemukan komik berjudul “When You Wish Upon A Star” karya Takanori Nakagawa. Dari sinopsis di bagian belakang sih ini komik fantasi romantis. Tapi gambarnya berbeda dengan komik kebanyakan. Menurut pandangan pertama saya, gambarnya enggak cantik, tapi punya ciri khas. Malah saya kira ini komik lama, ternyata terbit tahun 2013.

When You Wish Upon A Star menceritakan tentang Hikaru dan adik kembarnya, Kaguya. Tepat sebelum libur panas dimulai, mereka dipanggil kakek mereka untuk datang ke rumahnya. Kakak beradik itu dijemput oleh laki-laki bernama Tanaka-kun, seorang yang mengaku sebagai bintang yang menjadi manusia.

Continue reading “When You Wish Upon A Star – Takanori Nakagawa”

Novel

Membunuh Cupid – Desi Puspitasari

Membunuh Cupid_01

18d8c8262ae0a606dda18d0ef15d28e8-1180325756.jpg

Membunuh Cupid merupakan novel pertama yang saya dapatkan dari giveaway di blog tetangga. Yay! Dikirimkan langsung dari penerbitnya dan ditandatangani oleh Desi Puspitasari, sang penulis. Ini novel kedua Desi Puspitasari yang saya baca, yang pertama adalah On A Journey. Keduanya saya baca saat sedang butuh cerita romance.

Ulasan singkat ini molor lumayan lama, sudah hampir setahun sejak saya baca novelnya. Sebenarnya sudah saya buat langsung setelah selesai baca, tapi rasa-rasanya masih ada yang kurang. Baru sekarang saya buka lagi dan beri penambahan sedikit saat ada teman yang mau pinjam.

Agno, seorang florist manager di hotel terkemuka, tidak percaya pada cinta, padahal pekerjaannya sering berhubungan dengan acara pernikahan. Menurutnya cinta itu akar segala masalah yang terjadi pada manusia, terutama wanita. Banyak kejadian buruk yang tercatat dalam sejarah berawal karena masalah cinta. Sebagai seorang wanita, dia percaya bisa hidup mandiri tanpa pasangan hidup dan tanpa cinta.

Continue reading “Membunuh Cupid – Desi Puspitasari”

Novel

Bayangan Mengendap (Lockwood & Co. #4) – Jonathan Stroud

Setelah sukses dengan Bartimaeus Trilogy, Jonathan Stroud menerbitkan seri Lockwood & Co. yang bercerita tentang Inggris di masa epidemi hantu. Agensi-agensi berdiri untuk memerangi para Pengunjung yang tidak hanya mengganggu tapi juga membahayakan jiwa manusia. Lockwood & Co. merupakan agensi kecil yang dipimpin seorang remaja, Anthony Lockwood. Diceritakan dari sudut pandang Lucy Carlyle, agen muda berbakat yang bergabung dalam Lockwood & Co.

Buku pertama dan kedua sangat keren dan menegangkan. Sayangnya buku ketiga, Pemuda Berongga (The Hollow Boy), agak mengecewakan di alur cerita. Namun, Jonathan Stroud kembali memanjakan pembaca setianya di buku keempat Lockwood & Co., Bayangan Mengendap.

Continue reading “Bayangan Mengendap (Lockwood & Co. #4) – Jonathan Stroud”

Novel

The Bookaholic Club #1 – Poppy D. Chusfani

The Bookaholic Club

Saya punya buku keduanya The Bookaholic Club: Hantu-hantu Masa Lalu. Saya kira itu buku pertama. Jadi saya baca buku keduanya dulu baru buku pertamanya. Buku yang pertama saya pinjam di perpusda. Gaya penceritaannya nggak jauh beda.

Buku pertama menceritakan pertemuan empat remaja perempuan berbeda karakter yang hobi baca buku. Des penyihir. Tori gagap dan culun. Chira bisa melihat hantu. Erin luar biasa cantik dan populer.

Ternyata pertemuan dan persahabatan mereka ada yang mengatur. Walaupun begitu mereka tidak menyesal telah bertemu. Namun, ada tugas mengerikan yang harus mereka hadapi untuk menyelamatkan nyawa orang-orang di sekitar mereka, bahkan membahayakan nyawa mereka sendiri.

Novel ini seharusnya bisa jadi lebih seru dan lebih asyik. Menurut saya lebih banyak tell daripada show, terutama saat masing-masing tokoh menjelaskan latar belakang keluarganya. Dan kenapa sih Mbak Poppy menggunakan POV 1 dari keempat tokohnya? Kenapa nggak pakai POV 3 aja sekalian? Memang ada beberapa novel yang berganti-ganti POV, tapi nggak sebanyak ini. Empat, bayangkan. Di buku keduanya pun sama saja.

Untuk karakterisasinya memang bagus. Pribadi masing-masing tokoh, terutama tokoh utama, tergambar dengan jelas. Selain itu, ada bagian yang kocak tentang kehidupan anak remaja. Untuk gaya bahasa agak kaku. Niatnya mungkin mau dibuat seperti novel remaja terjemahan, tapi kurang berhasil. Saat menghadapi Bayangan juga kurang menegangkan. Alur ceritanya terlalu cepat dan kurang berasa. Jadi, yang paling saya suka dari novel ini adalah karakter keempat tokoh utamanya dan persahabatan mereka.

Saya agak sedih karena ternyata ada 3 halaman (7-12) yang hilang dari novel ini. Saya nggak cek waktu pinjam. Hiks.

 

The Bookaholic Club oleh Poppy D. Chusfani

Diterbitkan 2007 oleh PT. Gramedia Pustaka Utama

ISBN 9792232362

Novel

Pria Cilik Merdeka (Discworld #30) – Terry Pratchett

pria cilik merdeka

Saya penggemar berat Terry Pratchett dan karya-karyanya. Saya pertama kali mengenal karyanya yang difilmkan, berjudul The Colour of Magic. Waktu itu saya belum tahu Terry Pratchett, tapi filmnya berkesan sekali buat saya. Saya nggak bisa melupakan kotak bagasi yang bisa berjalan sendiri dengan banyak kaki dan dunia di atas punggung penyu. Lama kemudian baru saya menemukan novelnya di perpusda. Filmnya lucu, novelnya lebih lucu lagi walaupun menurut saya tata bahasanya amburadul. Dua seri Discworld terjemahan yang saya baca, The Colour of Magic dan The Light Fantastic , kurang nyaman dibaca. Apakah karena faktor penerjemahannya? Tapi tetap saya paksain baca karena saya suka ceritanya.

Lalu saya menemukan novel Pria Cilik Merdeka (The Wee Free Men) bersamaan dengan novel Maximum Ride seri keempat. Jadi, selain Maximum Ride, saya biasanya juga mencari novel-novel karya Terry Pratchett, entah yang berbahasa Indonesia maupun berbahasa Inggris. Seperti yang sudah saya bilang di tulisan saya sebelumnya, waktu itu saya sedang berniat mencari novel lain. Tanpa terduga mata saya menangkap nama Terry Pratchett di punggung salah satu buku. Maka, dengan segera saya menarik buku itu dari tumpukan buku yang lain dan saya senang sekali karena koleksi karya Terry Pratchett saya bertambah.

Bukunya seperti buku terbitan lama, padahal baru terbit tahun 2007, belum lama banget lah. Mungkin efek tidak terbungkus plastik dan warna kertasnya lebih kuning dari kertas yang biasanya. Dan setelah dibaca, tata bahasanya normal, syukurlah. Seri novel Discworld ke-30 yang saya dapat ini beda penerbit dari dua seri lainnya yang saya punya.

***

Tiffany Aching tinggal di pertanian dan bekerja membuat keju untuk membantu keluarganya. Dia senang belajar pada guru-guru yang datang musiman ke desanya. Pengetahuan diganti dengan sebutir telur atau sebuah wortel. Suatu hari Tifanny melihat makhluk-makhluk yang seharusnya ada dalam cerita dongeng muncul di pertaniannya. Mungkin Tiffany berbakat menjadi penyihir karena bisa melihat makhluk-makhluk yang hanya ada dalam cerita dongeng dan mimpi buruk.

Tiba-tiba adik Tiffany, Wentworth menghilang. Dibantu oleh kaum Nac Mac Feegle, para pria cilik merdeka, Tiffany mencari adiknya. Berbekal panci penggorengan dan buku berharga peninggalan neneknya, buku Penyakit-penyakit Domba, dia masuk ke negeri dongeng dan harus berhadapan dengan Ratu. Di sana batas antara mimpi dan kenyataan setipis helaian rambut. Dia bisa bermimpi saat terjaga atau terjaga dalam mimpi.

Tiffany seorang gadis yang cerdas dan tegas dalam bertindak. Dia tidak takut menghadapi apapun demi adiknya. Setidaknya, rasa takutnya tidak membuatnya menyerah begitu saja. Dalam hal ini Tiffany meneladani almarhum neneknya yang seorang penggembala domba. Nenek Aching merupakan tipe nenek yang tak terlalu dekat dengan cucunya, tapi Tiffany kecil menyerap seluruh sepak terjang Nenek Aching yang sangat disegani di desa mereka. Tiffany percaya kalau neneknya seorang penyihir.

Novel ini tak hanya lucu dan menghibur, tapi membuat saya berpikir lebih dalam tentang mimpi dan kesadaran.

Detail buku:

Pria Cilik Merdeka – The Wee Free Men (Discworld #30 – Tiffany Aching #1) oleh Terry Pratchett

Diterbitkan 2007 oleh Penerbit Aria

ISBN: 9789791112147

Novel

The Graveyard Book – Neil Gaiman

the-graveyard-book

Keluarga Bod—ayah, ibu, dan saudarinya—dibunuh saat Bod masih bayi. Bod yang merangkak dengan kaki dan tangan bayinya ke pemakaman di dekat rumahnya berhasil selamat. Terutama karena perlindungan dari para hantu di sana dan Silas yang menjauhkan si pembunuh.

Sejak saat itu Bod diangkat anak oleh Mr dan Mrs. Owens, pasangan hantu suami istri yang semasa hidupnya tak mempunyai anak, dan mendapatkan namanya, Nobody Owens. Sedangkan Silas, bukan hantu bukan juga manusia, menjadi walinya. Bod mendapat Kebebasan Pemakaman sehingga dia bebas berkeliaran di pemakaman seperti hantu. Tapi dia dilarang keluar karena penjahat yang mencarinya ada di luar sana. Dan karena para hantu tak mungkin bisa melindunginya di luar pemakaman, bahkan Silas pun tak bisa selalu melindunginya.

Banyak hal yang dialami Bod selama tinggal di pemakaman. Petualangannya selalu tak terduga. Dia mengenal setiap penghuni pemakaman, belajar banyak hal dari Silas, Miss Lupescu, dan guru-guru hantunya. Dia menjelajah ke setiap sudut pemakaman, ke tempat-tempat yang tak pernah didatangi manusia, bahkan hantu sekalipun. Bod tumbuh menjadi anak yang penurut, tapi ada kalanya dia secara tak sengaja terlibat dalam masalah. Lalu, semakin bertambah usianya, semakin bertambah pula rasa ingin tahunya mengenai masa lalunya yang masih dirahasiakan darinya. Tumbuh besar di pemakaman membuat cara pandang Bod dalam menyikapi hal-hal yang terjadi di sekitarnya berbeda dengan anak-anak seusianya. Seakan dia menyerap kebijaksanaan beratus-ratus tahun.

Selain hantu-hantu, dia juga pernah berteman dengan seorang gadis kecil—bukan hantu—bernama Scarlett yang berkunjung ke pemakaman dengan orangtuanya. Sayangnya Scarlett kemudian pindah ke luar kota karena pekerjaan ayahnya. Namun, peran Scarlet ternyata tak hanya sampai di situ, seperti beberapa hal lain yang terjadi pada Bod yang saya ketahui perannya setelah diceritakan kemudian. Neil Gaiman dengan cerdas meramu semuanya.

Tokoh favorit saya adalah Liza, Elizabeth Hempstock. Kuburannya tidak bernisan karena dia mati ditenggelamkan dan dibakar karena dituduh penyihir. Sebagai hantu yang tubuhnya dimakamkan di tanah yang tidak disucikan, dia tidak terikat oleh peraturan pemakaman, jadi bebas keluar masuk sesukanya. Liza sangat blak-blakan dan walaupun terdengar ketus, dia sangat peduli pada Bod.

Adegan favorit saya adalah saat Bod dan Scarlett yang masih berusia lima tahun masuk ke makam kuno di dalam bukit. Tentu saja ada makhluk penjaga di sana. Tapi Bod dengan berani mengabaikan makhluk itu. Yah, apa yang perlu dia takuti jika semasa hidupnya tinggal bersama hantu-hantu? Bahkan Scarlett pun tidak terlalu takut, kepolosan anak kecil mungkin, dan karena dia percaya pada Bod.

Banyak hal misterius dalam cerita ini. Tentang tradisi tarian di Old Town yang cukup heboh, tapi mudah dilupakan. Juga hal yang dilakukan Silas dan Miss Lupescu di luar pemakaman yang hanya disinggung sedikit. Benar-benar nanggung menurut saya.

Buat saya cerita The Graveyard Book keren. Walaupun cerita ini kesannya suram, saya bisa ketawa-ketawa sendiri di bagian yang mungkin buat orang lain tidak lucu. Bukan karena lucu sebenarnya, tapi lebih karena unik.

 

Detail buku:

The Graveyard Book oleh Neil Gaiman

Diterbitkan 2013 oleh PT Gramedia Pustaka Utama

(diterbitkan pertama kali 2008)

ISBN: 9780979-229460-6

Novel

The Queen Must Die – Gadis Penjelajah Waktu

the-queen-must-die

Saat sedang mencari sebuah buku kumpulan cerpen di perpusda, aku menemukan dua seri novel yang berjejeran di rak buku. Jadi, aku pun menghentikan pencarian dan memutuskan untuk meminjam The Queen Must Die, seri satu dari Chronicle of the Tempus. Seri duanya akan kupinjam pada kesempatan berikutnya.

Judul novel karya K. A. S. Quinn ini terjemahan bahasa Indonesianya nggak nyambung, dari The Queen Must Die jadi Gadis Penjelajah Waktu. Aku tidak tahu apa alasannya walaupun memang ceritanya tentang seorang gadis yang berpindah ke masa lalu.

Katie Berger-Jones-Burg mendapat penglihatan orang-orang yang tak dikenal di jalanan kota New York. Dia ingin menceritakannya pada seseorang, tapi dia tak punya teman dekat dan orang yang dipercaya untuk diajak bicara. Ibunya seorang penyanyi pop terkenal yang gemar gonta-ganti pacar dan jarang di rumah, sedangkan ayahnya sudah menikah lagi. Katie lebih sering menghabiskan waktu dengan membaca di kolong tempat tidurnya.

Saat Katie sedang membaca buku yang berisi surat-surat Putri Alice, salah satu putri Ratu Victoria, ia ketiduran dan sesuatu yang aneh terjadi. Ia terbangun di kolong sebuah sofa di istana Buckingham. Putri Alice menemukannya di sana dan menyembunyikannya dari para penghuni istana. Katie telah berpindah ke masa lalu. Ia mengira itu hanya mimpi dan ia akan terbangun kembali di kolong tempat tidurnya. Tapi ternyata tidak.

Katie pun berteman dengan Putri Alice dan James, anak dokter kerajaan. Mereka bersama-sama mencari cara untuk mengembalikan Katie ke masanya. Dalam usaha sembunyi-sembunyi itu, mereka memergoki kelompok Gelombang Hitam yang memasuki wilayah istana dan merencanakan pembunuhan Ratu. Tak hanya itu, ada makhluk aneh dengan kekuatan gaib yang turut bekerja di baliknya. Salah satunya adalah Bernardo DuQuelle, sekretaris pribadi Pangeran Albert, yang menurut Katie dapat membantunya kembali ke masanya atau membunuhnya.

Selama di istana, Katie berbagi makanan dengan Putri Alice. Tidak seperti kisah tentang putri atau pangeran lainnya yang pernah kubaca, Putri Alice sepertinya tidak mendapat banyak makanan. Dia juga sering dihukum oleh pengasuh sekaligus guru pribadinya yang pilih kasih.

Ternyata Katie tidak datang ke masa lalu dengan sendirinya, tetapi “dipanggil”. Penjelasan tentang ini baru muncul agak jauh di tengah cerita, berikut makhluk gaib yang menyebabkannya. Dari sini masalahnya menjadi semakin kompleks. Kekuatan (sekelompok) makhluk yang sepertinya dari dimensi lain itu memanggil tiga anak yang mempunyai bakat melakukan perjalanan menembus waktu, salah satunya Katie.

Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab di seri pertama ini, terutama tentang DuQuelle dan kaumnya, juga tentang anak-anak lain yang menjelajah waktu. Selain Katie, masih ada dua anak lain, tapi hanya disinggung sedikit tentang mereka di sini. Tidak banyak aksi mendebarkan yang melibatkan kaum DuQuelle, terutama karena Katie lebih sering bersembunyi dan hanya berinteraksi dengan Putri Alice dan James. Fokus utama mereka adalah menggagalkan rencana pembunuhan Ratu.

Seri pertama dari trilogi Chronicles of the Tempus ini selain menyajikan fantasi dan misteri juga memberikan informasi sejarah pada zaman Ratu Victoria. Keluarga kerajaan yang menjadi tokoh dalam cerita ini benar-benar ada, serta proyek Istana Kristal yang dikomandoi oleh Pangeran Albert. Selain itu, cerita tentang persahabatan yang terjadi antara Katie, Putri Alice, dan James juga menarik. Penerimaan Putri Alice terhadap Katie saat mereka pertama kali bertemu menurutku agak terlalu mulus, sedangkan James awalnya tidak memercayai Katie. Melalui kejadian yang terjadi di istana, mereka pun menjadi teman. Bagian yang paling aku suka adalah ketika Katie dan James mulai bertengkar, maka Putri Alice akan menengahi mereka dengan gaya bangsawannya yang tak bisa dibantah.