Novel

Pria Cilik Merdeka (Discworld #30) – Terry Pratchett

pria cilik merdeka

Saya penggemar berat Terry Pratchett dan karya-karyanya. Saya pertama kali mengenal karyanya yang difilmkan, berjudul The Colour of Magic. Waktu itu saya belum tahu Terry Pratchett, tapi filmnya berkesan sekali buat saya. Saya nggak bisa melupakan kotak bagasi yang bisa berjalan sendiri dengan banyak kaki dan dunia di atas punggung penyu. Lama kemudian baru saya menemukan novelnya di perpusda. Filmnya lucu, novelnya lebih lucu lagi walaupun menurut saya tata bahasanya amburadul. Dua seri Discworld terjemahan yang saya baca, The Colour of Magic dan The Light Fantastic , kurang nyaman dibaca. Apakah karena faktor penerjemahannya? Tapi tetap saya paksain baca karena saya suka ceritanya.

Lalu saya menemukan novel Pria Cilik Merdeka (The Wee Free Men) bersamaan dengan novel Maximum Ride seri keempat. Jadi, selain Maximum Ride, saya biasanya juga mencari novel-novel karya Terry Pratchett, entah yang berbahasa Indonesia maupun berbahasa Inggris. Seperti yang sudah saya bilang di tulisan saya sebelumnya, waktu itu saya sedang berniat mencari novel lain. Tanpa terduga mata saya menangkap nama Terry Pratchett di punggung salah satu buku. Maka, dengan segera saya menarik buku itu dari tumpukan buku yang lain dan saya senang sekali karena koleksi karya Terry Pratchett saya bertambah.

Bukunya seperti buku terbitan lama, padahal baru terbit tahun 2007, belum lama banget lah. Mungkin efek tidak terbungkus plastik dan warna kertasnya lebih kuning dari kertas yang biasanya. Dan setelah dibaca, tata bahasanya normal, syukurlah. Seri novel Discworld ke-30 yang saya dapat ini beda penerbit dari dua seri lainnya yang saya punya.

***

Tiffany Aching tinggal di pertanian dan bekerja membuat keju untuk membantu keluarganya. Dia senang belajar pada guru-guru yang datang musiman ke desanya. Pengetahuan diganti dengan sebutir telur atau sebuah wortel. Suatu hari Tifanny melihat makhluk-makhluk yang seharusnya ada dalam cerita dongeng muncul di pertaniannya. Mungkin Tiffany berbakat menjadi penyihir karena bisa melihat makhluk-makhluk yang hanya ada dalam cerita dongeng dan mimpi buruk.

Tiba-tiba adik Tiffany, Wentworth menghilang. Dibantu oleh kaum Nac Mac Feegle, para pria cilik merdeka, Tiffany mencari adiknya. Berbekal panci penggorengan dan buku berharga peninggalan neneknya, buku Penyakit-penyakit Domba, dia masuk ke negeri dongeng dan harus berhadapan dengan Ratu. Di sana batas antara mimpi dan kenyataan setipis helaian rambut. Dia bisa bermimpi saat terjaga atau terjaga dalam mimpi.

Tiffany seorang gadis yang cerdas dan tegas dalam bertindak. Dia tidak takut menghadapi apapun demi adiknya. Setidaknya, rasa takutnya tidak membuatnya menyerah begitu saja. Dalam hal ini Tiffany meneladani almarhum neneknya yang seorang penggembala domba. Nenek Aching merupakan tipe nenek yang tak terlalu dekat dengan cucunya, tapi Tiffany kecil menyerap seluruh sepak terjang Nenek Aching yang sangat disegani di desa mereka. Tiffany percaya kalau neneknya seorang penyihir.

Novel ini tak hanya lucu dan menghibur, tapi membuat saya berpikir lebih dalam tentang mimpi dan kesadaran.

Detail buku:

Pria Cilik Merdeka – The Wee Free Men (Discworld #30 – Tiffany Aching #1) oleh Terry Pratchett

Diterbitkan 2007 oleh Penerbit Aria

ISBN: 9789791112147

Novel

The Graveyard Book – Neil Gaiman

the-graveyard-book

Keluarga Bod—ayah, ibu, dan saudarinya—dibunuh saat Bod masih bayi. Bod yang merangkak dengan kaki dan tangan bayinya ke pemakaman di dekat rumahnya berhasil selamat. Terutama karena perlindungan dari para hantu di sana dan Silas yang menjauhkan si pembunuh.

Sejak saat itu Bod diangkat anak oleh Mr dan Mrs. Owens, pasangan hantu suami istri yang semasa hidupnya tak mempunyai anak, dan mendapatkan namanya, Nobody Owens. Sedangkan Silas, bukan hantu bukan juga manusia, menjadi walinya. Bod mendapat Kebebasan Pemakaman sehingga dia bebas berkeliaran di pemakaman seperti hantu. Tapi dia dilarang keluar karena penjahat yang mencarinya ada di luar sana. Dan karena para hantu tak mungkin bisa melindunginya di luar pemakaman, bahkan Silas pun tak bisa selalu melindunginya.

Banyak hal yang dialami Bod selama tinggal di pemakaman. Petualangannya selalu tak terduga. Dia mengenal setiap penghuni pemakaman, belajar banyak hal dari Silas, Miss Lupescu, dan guru-guru hantunya. Dia menjelajah ke setiap sudut pemakaman, ke tempat-tempat yang tak pernah didatangi manusia, bahkan hantu sekalipun. Bod tumbuh menjadi anak yang penurut, tapi ada kalanya dia secara tak sengaja terlibat dalam masalah. Lalu, semakin bertambah usianya, semakin bertambah pula rasa ingin tahunya mengenai masa lalunya yang masih dirahasiakan darinya. Tumbuh besar di pemakaman membuat cara pandang Bod dalam menyikapi hal-hal yang terjadi di sekitarnya berbeda dengan anak-anak seusianya. Seakan dia menyerap kebijaksanaan beratus-ratus tahun.

Selain hantu-hantu, dia juga pernah berteman dengan seorang gadis kecil—bukan hantu—bernama Scarlett yang berkunjung ke pemakaman dengan orangtuanya. Sayangnya Scarlett kemudian pindah ke luar kota karena pekerjaan ayahnya. Namun, peran Scarlet ternyata tak hanya sampai di situ, seperti beberapa hal lain yang terjadi pada Bod yang saya ketahui perannya setelah diceritakan kemudian. Neil Gaiman dengan cerdas meramu semuanya.

Tokoh favorit saya adalah Liza, Elizabeth Hempstock. Kuburannya tidak bernisan karena dia mati ditenggelamkan dan dibakar karena dituduh penyihir. Sebagai hantu yang tubuhnya dimakamkan di tanah yang tidak disucikan, dia tidak terikat oleh peraturan pemakaman, jadi bebas keluar masuk sesukanya. Liza sangat blak-blakan dan walaupun terdengar ketus, dia sangat peduli pada Bod.

Adegan favorit saya adalah saat Bod dan Scarlett yang masih berusia lima tahun masuk ke makam kuno di dalam bukit. Tentu saja ada makhluk penjaga di sana. Tapi Bod dengan berani mengabaikan makhluk itu. Yah, apa yang perlu dia takuti jika semasa hidupnya tinggal bersama hantu-hantu? Bahkan Scarlett pun tidak terlalu takut, kepolosan anak kecil mungkin, dan karena dia percaya pada Bod.

Banyak hal misterius dalam cerita ini. Tentang tradisi tarian di Old Town yang cukup heboh, tapi mudah dilupakan. Juga hal yang dilakukan Silas dan Miss Lupescu di luar pemakaman yang hanya disinggung sedikit. Benar-benar nanggung menurut saya.

Buat saya cerita The Graveyard Book keren. Walaupun cerita ini kesannya suram, saya bisa ketawa-ketawa sendiri di bagian yang mungkin buat orang lain tidak lucu. Bukan karena lucu sebenarnya, tapi lebih karena unik.

 

Detail buku:

The Graveyard Book oleh Neil Gaiman

Diterbitkan 2013 oleh PT Gramedia Pustaka Utama

(diterbitkan pertama kali 2008)

ISBN: 9780979-229460-6

Novel

The Queen Must Die – Gadis Penjelajah Waktu

the-queen-must-die

Saat sedang mencari sebuah buku kumpulan cerpen di perpusda, aku menemukan dua seri novel yang berjejeran di rak buku. Jadi, aku pun menghentikan pencarian dan memutuskan untuk meminjam The Queen Must Die, seri satu dari Chronicle of the Tempus. Seri duanya akan kupinjam pada kesempatan berikutnya.

Judul novel karya K. A. S. Quinn ini terjemahan bahasa Indonesianya nggak nyambung, dari The Queen Must Die jadi Gadis Penjelajah Waktu. Aku tidak tahu apa alasannya walaupun memang ceritanya tentang seorang gadis yang berpindah ke masa lalu.

Katie Berger-Jones-Burg mendapat penglihatan orang-orang yang tak dikenal di jalanan kota New York. Dia ingin menceritakannya pada seseorang, tapi dia tak punya teman dekat dan orang yang dipercaya untuk diajak bicara. Ibunya seorang penyanyi pop terkenal yang gemar gonta-ganti pacar dan jarang di rumah, sedangkan ayahnya sudah menikah lagi. Katie lebih sering menghabiskan waktu dengan membaca di kolong tempat tidurnya.

Saat Katie sedang membaca buku yang berisi surat-surat Putri Alice, salah satu putri Ratu Victoria, ia ketiduran dan sesuatu yang aneh terjadi. Ia terbangun di kolong sebuah sofa di istana Buckingham. Putri Alice menemukannya di sana dan menyembunyikannya dari para penghuni istana. Katie telah berpindah ke masa lalu. Ia mengira itu hanya mimpi dan ia akan terbangun kembali di kolong tempat tidurnya. Tapi ternyata tidak.

Katie pun berteman dengan Putri Alice dan James, anak dokter kerajaan. Mereka bersama-sama mencari cara untuk mengembalikan Katie ke masanya. Dalam usaha sembunyi-sembunyi itu, mereka memergoki kelompok Gelombang Hitam yang memasuki wilayah istana dan merencanakan pembunuhan Ratu. Tak hanya itu, ada makhluk aneh dengan kekuatan gaib yang turut bekerja di baliknya. Salah satunya adalah Bernardo DuQuelle, sekretaris pribadi Pangeran Albert, yang menurut Katie dapat membantunya kembali ke masanya atau membunuhnya.

Selama di istana, Katie berbagi makanan dengan Putri Alice. Tidak seperti kisah tentang putri atau pangeran lainnya yang pernah kubaca, Putri Alice sepertinya tidak mendapat banyak makanan. Dia juga sering dihukum oleh pengasuh sekaligus guru pribadinya yang pilih kasih.

Ternyata Katie tidak datang ke masa lalu dengan sendirinya, tetapi “dipanggil”. Penjelasan tentang ini baru muncul agak jauh di tengah cerita, berikut makhluk gaib yang menyebabkannya. Dari sini masalahnya menjadi semakin kompleks. Kekuatan (sekelompok) makhluk yang sepertinya dari dimensi lain itu memanggil tiga anak yang mempunyai bakat melakukan perjalanan menembus waktu, salah satunya Katie.

Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab di seri pertama ini, terutama tentang DuQuelle dan kaumnya, juga tentang anak-anak lain yang menjelajah waktu. Selain Katie, masih ada dua anak lain, tapi hanya disinggung sedikit tentang mereka di sini. Tidak banyak aksi mendebarkan yang melibatkan kaum DuQuelle, terutama karena Katie lebih sering bersembunyi dan hanya berinteraksi dengan Putri Alice dan James. Fokus utama mereka adalah menggagalkan rencana pembunuhan Ratu.

Seri pertama dari trilogi Chronicles of the Tempus ini selain menyajikan fantasi dan misteri juga memberikan informasi sejarah pada zaman Ratu Victoria. Keluarga kerajaan yang menjadi tokoh dalam cerita ini benar-benar ada, serta proyek Istana Kristal yang dikomandoi oleh Pangeran Albert. Selain itu, cerita tentang persahabatan yang terjadi antara Katie, Putri Alice, dan James juga menarik. Penerimaan Putri Alice terhadap Katie saat mereka pertama kali bertemu menurutku agak terlalu mulus, sedangkan James awalnya tidak memercayai Katie. Melalui kejadian yang terjadi di istana, mereka pun menjadi teman. Bagian yang paling aku suka adalah ketika Katie dan James mulai bertengkar, maka Putri Alice akan menengahi mereka dengan gaya bangsawannya yang tak bisa dibantah.

 

Novel

Stormswept – Tersapu Badai

stormswept

Stormswept merupakan buku kelima dari The Ingo Chronicles karya Helen Dunmore. Biasanya aku tidak meminjam novel berseri secara acak, tapi aku sudah lama penasaran dengan Ingo. Seharusnya aku mencari seri yang lebih awal, tapi susunan buku di rak perpusda agak berantakan. Kita kadang menemukan buku-buku di rak yang salah. Selain itu, belum tentu perpusda punya lengkap semua serinya.

Setelah membaca novel ini, aku jadi merasa seharusnya sejak dulu aku sudah mengoleksi seri Ingo. Aku tak tahu apakah Stormswept berkaitan dengan seri lainnya, tapi cerita Stormswept berdiri sendiri dan dapat diikuti tanpa harus membaca seri-seri sebelumnya. Walaupun di sampul belakang buku tertulis “novel dewasa”, Stormswept merupakan novel fantasi remaja yang cukup ringan.

Morveren tinggal bersama keluarganya di sebuah pulau dekat pantai Cornwall. Pulau itu di masa lalu pernah menyatu dengan daratan, namun dihantam pasang tinggi sehingga menenggelamkan kota yang dulunya megah dan indah. Sedikit warganya dapat menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi, tapi banyak yang ditelan samudra. Ada legenda yang mengatakan bahwa mereka yang tenggelam tidak mati.

Suatu hari setelah malam berbadai dahsyat, Morveren menemukan seorang remaja pria di bukit pasir dekat pantai. Remaja itu terluka dan Morveren mendapati bahwa remaja itu bukan manusia, tapi remaja Mer. Morveren meminta bantuan saudari kembarnya, Jenna, untuk menolong Malin, si remaja Mer. Karena tak mungkin mengembalikan Malin ke laut yang ombaknya masih kencang, mereka membawa Malin ke kolam batu karang yang tersembunyi agar dapat memulihkan diri.

Jenna tak mau menerima kenyataan keberadaan Mer, sehingga hubungan kedua saudari kembar itu menjadi agak renggang. Sementara itu, air asin di kolam batu karang tak membuat keadaan Malin semakin membaik karena kolam itu bukan Ingo, laut dalam bahasa Mer. Juga ada masalah lain, orang-orang jahat yang berniat menangkap Malin. Jadi, Morveren harus segera mengeluarkan Malin dari kolam karang itu.

Hubungan antara Morveren dan Jenna sangat unik. Mereka dapat berkomunikasi melalui pikiran. Saat kecil mereka berbagi semuanya, tapi semakin tumbuh dewasa ada tembok yang mulai membatasi mereka. Namun, Morveren maupun Jenna tak bisa mengabaikan satu sama lain terlalu lama.

Sejak bertemu Malin dan kaum Mer lainnya di Ingo, Morveren merasa menemukan dunia di mana seharusnya ia berada. Malin berpendapat bahwa Morveren adalah bagian dari kaum Mer. Morveren ingin berada di Ingo, tapi ketika mendengar panggilan Jenna di benaknya, ia sadar tak bisa meninggalkan saudari kembarnya.

Ini kisah penyelamatan yang seru. Aku berharap Malin dan Morveren bisa jadi sahabat. Tapi, sifat kaum Mer yang mendesak manusia yang dianggap sebagai kaumnya untuk tetap berada di Ingo agak mengerikan, pada awalnya. Seperti kaum Mer yang menginginkan Digory, adik Morveren yang jago bermain biola, agar tetap bermain musik di Ingo. Juga Malin yang terus membujuk Morveren agar ikut dengannya. Namun, Malin menghargai keputusan Morveren untuk kembali pada keluarganya.

Aku jarang menjumpai novel fantasi yang mengangkat topik tentang laut. Novel yang aku ingat adalah Monster Mission karya Eva Ibbotson yang aku baca di awal tahun 2016. Life of Pi karya Yann Martel adalah novel keren tentang petualangan seorang anak laki-laki terombang-ambing di laut bersama seekor harimau. Ada juga novel karya penulis kecil Indonesia tentang penyelamatan hewan laut (kalau tidak salah), tapi aku lupa judulnya. Kalau ada yang tahu novel lain, tolong rekomendasinya.

Novel

Jubah Tengkorak – The Robe of Skulls

jubah-tengkorak

Aku ingin membaca novel fantasi yang ringan dan Jubah Tengkorak sesuai sekali dengan yang kuinginkan. Ceritanya cocok dibaca oleh anak-anak sampai orang dewasa.

Kisah ini bermula dari nenek sihir bernama Lady Lamorna yang menginginkan sebuah jubah baru yang indah. Indah dalam pandangan nenek sihir tentu saja. Dia keburu memesannya sebelum menyadari bahwa dia kehabisan emas, peti hartanya kosong. Lalu, dari ide pelayan troll-nya, Gubble, dia berniat melakukan sesuatu yang jahat untuk mendapatkan emas.

Jadi, dimulailah perjalanannya ke kerajaan-kerajaan terdekat untuk melaksanakan misinya. Namun, dia bertemu dengan Foyce, gadis cantik yang cerdas tapi licik—dan lebih jahat dari Lady Lamorna—yang berniat mengambil keuntungan dari nenek sihir itu. Foyce sebenarnya sedang mengejar Gracie Gillypot, saudari tirinya yang melarikan diri.

Gracie gadis malang yang sering dikunci di ruang bawah tanah dan mendapat pertolongan dari seekor kelelawar yang bisa berbicara. Dia pun terlibat dalam petualangan mengunjungi Pitarah Purba dan bertemu seorang pangeran muda. Gracie dan sang pangeran berusaha menyelamatkan para pangeran dan putri dari sihir Lady Lamorna.

Aku suka sekali cerita tentang sang pangeran, Pangeran Marcus namanya. Dia punya saudara kembar, Pangeran Arioso. Walaupun kembar, sifat mereka sangat jauh berbeda. Pangeran Arioso atau Arry adalah putra mahkota karena dia lahir lebih dulu. Arry merupakan putra mahkota sejati, sikapnya sopan, baik, dan dia tekun belajar. Sedangkan Marcus bandel, sering mengerjai Arry, dan lebih senang bermain. Namun, saat mengetahui bahwa sudara kembarnya berada dalam bahaya, Marcus tak berpikir dua kali untuk menolong walau jalan yang dilalui sulit dan berbahaya.

Novel Jubah Tengkorak (The Robe of Skulls) karya Vivian French ini adalah buku pertama dari 5 seri Tales from the Five Kingdoms. Jadi penasaran dengan seri-seri berikutnya. Seri pertamanya saja seru dan menghibur begini. Lebih menarik lagi karena dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi yang asyik karya Ross Collins.

 

 

Novel

Clockwork Angel – Buku Satu The Infernal Devices

clockwork-angel_cassandra-clare

Aku sudah lama sekali penasaran dengan novel ini. Berulang kali melihatnya di toko buku dan lebih sering lagi di rak perpusda tapi, selalu kulewati. Itu karena Clockwork Angel adalah buku pertama dari entah berapa seri dan tak ada novel lanjutannya di perpusda. Satu hal menyebalkan yang sering kujumpai di perpusda. Jadi, resikonya jika aku meminjam buku ini adalah aku tak akan bisa membaca membaca novel-novel berikutnya kecuali aku mencari pinjaman di tempat lain atau membelinya. Aku mengambil resiko itu hari Minggu lalu, bersamaan dengan aku meminjam Fire.

Belakangan aku tahu bahwa Clockwork Angel adalah buku pertama dari tiga seri, lebih tepatnya trilogi The Infernal Devices, karya Cassandra Clare. Alasan lain aku begitu lama urung untuk meminjam buku ini adalah karena ketebalannya, 644 halaman, cukup tebal dan berat. Dan ternyata aku sudah pernah pinjam entah kapan, tapi sepertinya waktu itu aku tak sempat membaca, jadi Ibunda yang baca. Semua novel yang aku pinjam dari perpusda, Ibunda juga ikut baca.

“SIHIR MEMANG BERBAHAYA—TAPI CINTA TETAP LEBIH BERBAHAYA”

Kutipan dari sampul belakang Clockwork Angel. Penekanan terhadap “cinta” adalah poin kesekian yang membuatku agak enggan meminjam buku ini. Aku membaca novel fantasi karena, yah, fantasinya.

Untuk cerita dengan latar tahun 1870an menurutku gaya bahasa yang digunakan terlalu modern. Memang sih tokoh-tokoh utamanya anak muda, tapi tetap saja. Semakin jauh aku membacanya, aku berusaha membayangkan London zaman itu dengan gaya berpakaian saat itu yang agak sulit aku lakukan. Aku perlu sering mengingatkan diri bahwa saat itu di London, tahun 1870an. Lalu, aku pun berpikir bahwa aku pasti akan lebih menikmati untuk menonton filmnya dibandingkan membacanya.

Jalan ceritanya sendiri menarik. Tessa yang datang ke London dari New York untuk bertemu kakaknya, Nathaniel, malah dikurung oleh dua bersaudari kejam dan menghadapi berbagai keanehan. Tessa diselamatkan dan dibantu oleh para Pemburu Bayangan yang adalah keturunan malaikat untuk menemukan kakaknya. Pencarian yang dilakukan ternyata mengarahkan mereka ke sebuah penemuan yang mengejutkan tentang persekongkolan makhluk gaib Dunia Bawah untuk menentang para Pemburu Bayangan yang menjaga keamanan di Dunia Bawah.

Aku sebenarnya mengharapkan lebih banyak pengejaran dan pertarungan dengan iblis, sayangnya tidak terjadi, ada sih tapi hanya dalam porsi kecil. Walaupun begitu, ada banyak makhluk gaib. Makhluk setengah iblis atau terkena penyakit iblis. Contohnya warlock adalah setengah iblis. Vampir dan manusia serigala adalah makhluk yang terkena penyakit iblis. Tessa sendiri kemungkinan adalah warlock.

Aku pun bertanya-tanya tentang clockwork angel milik Tessa, malaikat yang terbuat dari mesin jam yang dijadikan bandul kalung oleh Tessa, judul dari novel ini, yang tak banyak berperan. Memang sering disebutkan bahwa clockwork angel tersebut jadi semacam jimat untuk Tessa dan menenangkannya karena bunyi detik mesin jamnya. Benda itu ternyata juga benda ajaib yang baru menunjukkan keajaibannya mendekati akhir cerita. Sepertinya mubazir dijadikan judul kalau porsinya dalam cerita kecil sekali, malah hampir tak ada pengaruhnya.

Sekali lagi, aku pasti lebih senang untuk menonton filmnya. Tokoh-tokohnya keren. James dan Will dijelaskan sebagai dua laki-laki tampan, selayaknya setengah malaikat. Para vampirnya memukau, selayaknya vampir (di kebanyakan cerita). Bukan hanya karena ingin melihat mereka secara langsung, tapi karena bisa dibilang “aku menonton filmnya saja sudah cukup, tak perlu membaca novelnya”. Ya, begitulah.

Aku menyelesaikan Buku Satu The Infernal Devices ini dalam dua hari dengan agak bosan. Kemungkinan karena efek membaca novel dengan jeda yang sangat singkat. Seharusnya kubiarkan cerita dari novel sebelumnya mengendap dulu beberapa hari, baru membaca novel lain.

Novel

Hanya Coretanku tentang Novel Fire

fire_kristin-cashore_gramediaAku menyeret diriku sendiri untuk mengetikkan ini menjelang tengah malam (tepatnya hari Minggu tiga hari yang lalu). Karena kalau aku tidak melakukannya sekarang, aku yakin tak akan pernah melakukannya.

Aku baru saja selesai melahap dengan rakus sebuah novel fantasi berjudul “Fire”. Salah satu novel yang kupinjam dari perpusda hari ini (Minggu 18 Desember) dan menyelesaikannya dalam waktu kurang dari 10 jam hampir tanpa henti. Walaupun minggu lalu aku sudah membaca dua novel—satu novel klasik anak-anak dan satu novel fantasi—setelah sekian lama, sepertinya aku masih lapar akan kenikmatan membaca. Novel fantasi terakhir yang aku baca sebelum Fire adalah Graceling, buku pertamanya. Dan ya, aku meminjam Fire karena penasaran dengan buku keduanya.

Mungkin seharusnya aku bersikap netral saat membaca Fire. Aku masih sangat terpengaruh dengan kisah Graceling yang menurutku cukup unik dan mengesankan. Tapi tentu saja Fire berbeda dengan Graceling. Aku tak menemukan sosok tangguh Katsa dalam diri Fire, tapi Fire tangguh dengan caranya sendiri. Secara pribadi, aku lebih menyukai Graceling karena Bakat yang dimiliki para tokoh utamanya sehingga aku tak perlu terlalu mengkhawatirkan mereka. Juga karena kisah romantisnya. Dalam Fire ada kisah romantis tentu saja, dalam taraf yang berbeda. Sayangnya, pandangan Kristin Cashore tentang hubungan tanpa pernikahan yang terdapat dalam novel-novelnya sangat tidak sesuai dengan budaya di Indonesia.

Yang paling kusukai dari kedua novel Kristin Cashore yang sudah kubaca adalah kisah tentang keluarga dan rasa sayang antarsaudara yang jarang mendapat porsi cukup besar dan disampaikan dengan menarik—menurutku—dalam novel fantasi pada umumnya. Terutama jika lingkupnya keluarga kerajaan. Biasanya yang terjadi dalam keluarga kerajaan adalah saling menjatuhkan atau manis di depan tapi licik di belakang. Tapi dalam Fire dan Graceling benar-benar ada rasa sayang di sana, di antara percekcokan antarsaudara yang biasa terjadi—tanpa usaha saling bunuh—dan digambarkan dengan indah. Kuharap bisa menemukan hal yang sama dalam Bitterblue, buku ketiganya.

Sejujurnya, dunia di Dells tempat kisah Fire berlangsung terasa aneh buatku dan masih aneh hingga halaman terakhir. Mengapa harus ada monster untuk setiap makhluk hidup yang ada di sana? Kalau ada kuda, maka ada monster kuda, serangga dan monster serangga, demikian juga hewan-hewan lain bahkan manusia. Suatu tempat yang sangat jauh berbeda dengan daerah di tujuh kerajaan berkuasa tempat para Graceling berada. Dan kedua wilayah itu hanya dipisahkan dengan pegunungan batu. Yah, pegunungan batu yang sulit dilalui, sebenarnya, yang sepertinya mampu membuat keduanya terisolasi satu sama lain.

Nah, terlepas dari isi ceritanya. Novel terjemahan terbitan Gramedia yang ini sepertinya kurang ketat proses penyuntingannya. Tidak seperti novel terbitan Gramedia biasanya. Banyak kesalahan ketik dan susunan kalimat yang membuat bingung. Beberapa kali aku terpeleset keluar dari cerita karena ini. Hal yang agak tidak menyenangkan saat sedang asyik membaca.