Novel

Le Masques – Indah Hanaco

Les Masques

Akhirnya nemu novel Indonesia yang nggak biasa. Bosan sama teenlit dan sejenisnya yang cinta-cintaan. Selain itu, gaya bahasanya juga nggak alay.

Fleur Radella, berdarah blasteran, cantik dan menarik tapi lebih memilih untuk tidak menonjol. Sejak kecil disia-sia oleh neneknya karena kelahirannya tidak diinginkan, tapi terutama karena ibunya meninggal setelah melahirkan Fleur. Punya sifat pemalu dan tertutup karena masa lalu kelam yang melahirkan tiga jiwa yang berbeda dalam dirinya.

Elektra Valerius, jiwa yang berani dan sering mengambil alih kesadaran Fleur untuk membuka jalan kesuksesan bagi Fleur, keputusan yang tidak akan berani diambil oleh Fleur sendiri. Beberapa tindakan Elektra kelewat batas, asal membuat Fleur bahagia.

Tatum Honora, gadis pemurung yang sering berpikiran negatif dan menjadi teman tukar pendapat Elektra. Tatum lebih suka menyendiri.

Adam Dewatra, hanya sekali muncul saat keadaan mendesak dan menunjukkan diri pada Elektra dan Tatum di akhir cerita untuk membantu Tatum.

Continue reading “Le Masques – Indah Hanaco”

Novel

Konrad si Anak Instan – Christine Nöstlinger

Konrad Si Anak Instan

Mrs. Berti Bartolotti mendapat kiriman paket berukuran besar. Ia tak tahu apa isi paketnya. Walaupun ia memang sering mengirim formulir dan kupon barang, ia merasa tak pernah memesan apapun dengan ukuran sebesar itu yang beratnya sekitar 20 kg. Ia membuka tutup kaleng dan sangat terkejut mendapati seorang anak di dalamnya. Anak laki-laki itu bernama Konrad, usianya tujuh tahun. Dan ia anak instan buatan pabrik, lengkap dengan surat-surat.

Mrs. Bartolotti merasa senang karena tiba-tiba mendapat anak. Apalagi Konrad bukan anak biasa, ia manis, baik hati, penurut, dan sangat pintar. Anak laki-laki idaman setiap orang tua. Mrs. Bartolotti sangat menyayangi Konrad, demikian juga sebaliknya walaupun Mrs. Bartolotti bukan tipe ibu yang baik. Suaminya sudah lama pergi entah ke mana, ia dipandang sebagai wanita aneh oleh orang-orang di sekitarnya karena penampilannya nyentrik. Ia juga tak tahu apa yang benar-benar dibutuhkan anak laki-laki berusia tujuh tahun.

Namun, untunglah ada Mr. Egon, apoteker sahabat Mrs. Bartolotti yang ingin menjadi ayah Konrad dan memahami betul kebutuhan anak laki-laki berusia tujuh tahun. Seperti sekolah beserta perlengkapannya, pergi berjalan-jalan, dan makanan sehat.

Continue reading “Konrad si Anak Instan – Christine Nöstlinger”

Novel

Pria Cilik Merdeka (Discworld #30) – Terry Pratchett

pria cilik merdeka

Saya penggemar berat Terry Pratchett dan karya-karyanya. Saya pertama kali mengenal karyanya yang difilmkan, berjudul The Colour of Magic. Waktu itu saya belum tahu Terry Pratchett, tapi filmnya berkesan sekali buat saya. Saya nggak bisa melupakan kotak bagasi yang bisa berjalan sendiri dengan banyak kaki dan dunia di atas punggung penyu. Lama kemudian baru saya menemukan novelnya di perpusda. Filmnya lucu, novelnya lebih lucu lagi walaupun menurut saya tata bahasanya amburadul. Dua seri Discworld terjemahan yang saya baca, The Colour of Magic dan The Light Fantastic , kurang nyaman dibaca. Apakah karena faktor penerjemahannya? Tapi tetap saya paksain baca karena saya suka ceritanya.

Lalu saya menemukan novel Pria Cilik Merdeka (The Wee Free Men) bersamaan dengan novel Maximum Ride seri keempat. Jadi, selain Maximum Ride, saya biasanya juga mencari novel-novel karya Terry Pratchett, entah yang berbahasa Indonesia maupun berbahasa Inggris. Seperti yang sudah saya bilang di tulisan saya sebelumnya, waktu itu saya sedang berniat mencari novel lain. Tanpa terduga mata saya menangkap nama Terry Pratchett di punggung salah satu buku. Maka, dengan segera saya menarik buku itu dari tumpukan buku yang lain dan saya senang sekali karena koleksi karya Terry Pratchett saya bertambah.

Bukunya seperti buku terbitan lama, padahal baru terbit tahun 2007, belum lama banget lah. Mungkin efek tidak terbungkus plastik dan warna kertasnya lebih kuning dari kertas yang biasanya. Dan setelah dibaca, tata bahasanya normal, syukurlah. Seri novel Discworld ke-30 yang saya dapat ini beda penerbit dari dua seri lainnya yang saya punya.

***

Tiffany Aching tinggal di pertanian dan bekerja membuat keju untuk membantu keluarganya. Dia senang belajar pada guru-guru yang datang musiman ke desanya. Pengetahuan diganti dengan sebutir telur atau sebuah wortel. Suatu hari Tifanny melihat makhluk-makhluk yang seharusnya ada dalam cerita dongeng muncul di pertaniannya. Mungkin Tiffany berbakat menjadi penyihir karena bisa melihat makhluk-makhluk yang hanya ada dalam cerita dongeng dan mimpi buruk.

Tiba-tiba adik Tiffany, Wentworth menghilang. Dibantu oleh kaum Nac Mac Feegle, para pria cilik merdeka, Tiffany mencari adiknya. Berbekal panci penggorengan dan buku berharga peninggalan neneknya, buku Penyakit-penyakit Domba, dia masuk ke negeri dongeng dan harus berhadapan dengan Ratu. Di sana batas antara mimpi dan kenyataan setipis helaian rambut. Dia bisa bermimpi saat terjaga atau terjaga dalam mimpi.

Tiffany seorang gadis yang cerdas dan tegas dalam bertindak. Dia tidak takut menghadapi apapun demi adiknya. Setidaknya, rasa takutnya tidak membuatnya menyerah begitu saja. Dalam hal ini Tiffany meneladani almarhum neneknya yang seorang penggembala domba. Nenek Aching merupakan tipe nenek yang tak terlalu dekat dengan cucunya, tapi Tiffany kecil menyerap seluruh sepak terjang Nenek Aching yang sangat disegani di desa mereka. Tiffany percaya kalau neneknya seorang penyihir.

Novel ini tak hanya lucu dan menghibur, tapi membuat saya berpikir lebih dalam tentang mimpi dan kesadaran.

Detail buku:

Pria Cilik Merdeka – The Wee Free Men (Discworld #30 – Tiffany Aching #1) oleh Terry Pratchett

Diterbitkan 2007 oleh Penerbit Aria

ISBN: 9789791112147

Novel

Peringatan Terakhir (Maximum Ride #4) – James Patterson

maximum-ride_peringatan-terakhir

Saya membaca seri pertama Maximum Ride, Eksperimen Malaikat (The Angel Experiment) sudah lamaaa sekali, yaitu bulan Mei 2011. Waktu itu saya pinjam dari perpusda. Saya suka sekali ceritanya, tapi lanjutannya nggak ada di perpusda. Jadi, setiap kali datang ke toko buku atau pesta buku, saya selalu cari seri Maximum Ride lainnya.

Kemudian saya dapat seri keduanya, Sekolah Selesai—Selamanya (School’s Out—Forever) bulan September 2011 di obral buku Gramedia. Seri ketiganya, Menyelamatkan Dunia dan Olahraga Ekstrem Lainnya (Saving the World and Other Extreme Sports) saya temukan di Toga Mas Jogja pada Desember 2011.

Barulah bulan Februari 2017 lalu saya dapat seri keempatnya, Peringatan Terakhir (The Final Warning) di bazar Yusuf Agency. Padahal waktu itu saya sedang cari novel lain. Saat mata saya sedang menyusuri tumpukan buku berbagai judul, saya pun menemukan MAXIMUM RIDE ini. Pas sekali yang saya temukan itu adalah seri keempat dan satu-satunya yang ada di situ. Plastik pembukusnya sudah robek sedikit menyebabkan ujung buku agak kotor, tapi selain itu kondisinya baik.

Maximum Ride bercerita tentang 6 bocah hasil rekayasa genetika yang memiliki sayap burung. Mereka benar-benar bisa terbang. Sepak terjang mereka sebagian besar diceritakan dari sudut pandang Max sebagai pemimpin kawanan. Oh ya, Max ini anak perempuan, informasi saja buat yang belum tahu. Anggota lainnya adalah Fang, Iggy, Nudge, Gasman, dan Angel. Total si anjing bergabung kemudian. Mereka melarikan diri dari laboratorium tempat mereka dibesarkan dan melanjutkan hidup dalam pelarian sambil bersembunyi.

Selain bisa terbang, mereka juga punya kemampuan khusus masing-masing. Max punya kemampuan memimpin dan mengambil keputusan untuk keselamatan kawanan, dia kadang mendengar Suara di dalam kepalanya. Entah siapa si Suara ini. Fang yang pendiam sangat bisa diandalkan dan rekan terkuat Max. Iggy buta, tetapi sangat jago merakit bom. Nudge cerewet dan pencair suasana, Gasman punya kentut yang bau sekali, dan Angel yang paling kecil di antara mereka bisa membaca pikiran. Di seri Peringatan Terakhir, masing-masing punya kemampuan baru yang kemungkinan disebabkan mutasi genetik secara alami.

Mereka terus berpindah-pindah supaya tidak mudah ditemukan. Para ilmuwan yang menciptakan mereka melakukan apa saja agar bisa mendapatkan mereka kembali dengan mengirimkan pasukan yang mengerikan, hasil rekayasa genetika juga. Setelah mengalahkan musuh yang menemukan mereka, kawanan tak bisa santai terlalu lama karena pasukan musuh berikutnya kembali mengintai. Kehidupan mereka dipenuhi dengan ketegangan dan perjuangan mempertaruhkan nyawa untuk bertahan hidup dan memiliki kebebasan.

Di seri Peringatan Terakhir, Max dan kawanan bergabung dengan tim peneliti ke Antartika atas rekomendasi Dr. Martinez, ibu Max, dalam penelitian mengenai dampak pemanasan global. Sebelumnya mereka menolak tawaran dari pemerintah Amerika yang ingin memberi mereka perlindungan dan pendidikan. Dalam misi penyelamatan dunia di Antartika, Max dan kawanan kembali tertangkap musuh tapi berhasil melarikan diri berkat badai yang kemungkinan besar terjadi akibat pemanasan global.

Tiga seri pertamanya seru sekali. Tapi seri keempat jadi kurang menarik karena mengangkat tema yang terlalu umum yaitu pemanasan global. Kesannya James Patterson menceramahi pembacanya di sini, melalui Max. Buat saya komentar-komentar tentang pemanasan global di novel ini agak menggelikan—tanpa bermaksud meremehkan dampak pemanasan global di dunia nyata. Bagus juga sih sebenarnya, tapi setelah berbagai aksi pertarungan antara hidup dan mati di seri-seri sebelumnya, isu pemanasan global jadi terlalu biasa. Atau mungkin cara penyampaiannya yang kurang pas.

Maximum Ride tidak berhenti di seri keempat. Apakah saya masih tertarik untuk memiliki seri-seri berikutnya? Walaupun agak down di Peringatan Terakhir, saya masih penasaran dengan kelanjutan kisah bocah-bocah burung ini.

 

Detail buku:

Peringatan Terakhir (Maximum Ride #4) oleh James Patterson

Diterbitkan 2009 oleh PT. Gramedia Pustaka Utama

Penerjemah: Poppy D. Chusfani.

Novel

Petualangan Tom Sawyer – Mark Twain

petualangan-tom-sawyer

Setelah baca Madicken dan Lisabet yang manis dan lucu—walau kadang bandel juga—lalu lanjut baca Tom Sawyer yang benar-benar bandel, saya jadi sebel sendiri sama si Tom. Bocah laki-laki yang diasuh oleh bibinya, Bibi Polly, ini bandelnya luar biasa. Dia selalu berusaha menghindar dari tugas dengan cara yang cerdik. Walaupun sudah sering dihukum, Tom tidak pernah jera. Jiwanya selalu menginginkan petualangan dan tak bisa diam untuk waktu yang lama.

Imajinasinya sangat tinggi, terutama karena terpengaruh dari buku-buku petualangan yang dibacanya. Lucu sekali mengikuti tingkah laku Tom dan teman-temannya yang menganggap serius hal-hal yang mereka baca dari buku dan mitos-mitos yang ada di sekitar mereka.

Kadang Tom berbuat usil sendiri, kadang bersama teman-temannya. Karena ulahnya, dia sering membuat hati bibinya sedih. Namun, di antara banyak keusilannya itu ada kebaikan dalam hati Tom. Dia menyayangi bibinya dan tidak tega membiarkan orang yang tidak bersalah menerima hukuman. Setelah mengalami beberapa kejadian luar biasa, Tom ingin berkelakuan lebih baik, yah, sedikit lebih baik.

Masalah yang dihadapi Tom beragam. Dari masalah yang biasa dihadapi anak-anak seusianya sampai masalah yang menyangkut nyawa. Dalam cerita ini petualangan Tom yang paling seru adalah bersama Huckleberry Finn. Tapi saya paling suka saat acara jalan-jalan Tom dan Becky dalam gua. Menyentuh dan menegangkan. Becky Thatcher pendatang baru di desa Tom dan rasa suka Tom pada gadis itu sering juga memengaruhi suasana hati Tom.

Tom punya sepupu, namanya Sid. Karakter Sid berkebalikan dengan Tom dan mereka tidak akur. Peran Sid tidak terlalu besar walaupun diceritakan Tom selalu membalas jika Sid mengadukan Tom atau membuat Tom tampak buruk jika dibandingkan dengan Sid. Dan karena mereka tidur sekamar, Sid sebenarnya lebih tahu sepak terjang Tom di malam hari walaupun hal ini tidak banyak diulas karena Sid sepertinya menyimpan itu semua untuk dirinya sendiri.

Ada bagian yang membosankan buat saya, yaitu saat ujian pembacaan karangan. Jadi saya cuma baca cepat dan lompati hal yang kurang penting karena tidak berkaitan dengan Tom.

Sayang sekali buku edisi ini lumayan banyak typo­nya. Entah itu kata ganda, kesalahan huruf, bahkan frasa. Selain itu, ini karya klasik yang asyik untuk dibaca.

 

 

Detail buku:

Petualangan Tom Sawyer karya Mark Twain

Diterbitkan 2010 oleh PT. Elex Media Komputindo

(Pertama kali diterbitkan 1876)

ISBN: 978 979 27 7299 9

Novel

Madicken dan Lisabet – Astrid Lindgren

madicken-dan-lisabet

Saya sering sekali mendengar tentang Astrid Lindgren dan buku-bukunya. Penulis asal Swedia ini sangat populer dengan cerita anak-anak. Namun, saya jarang membaca karyanya jika dibandingkan dengan karya Enid Blyton dan Roald Dahl. Pippi Longstocking merupakan novelnya yang tidak selesai saya baca. Lucu sih, tapi tingkah gadis kecil itu agak berlebihan menurut saya. Mungkin kapan-kapan saya mau baca lagi. Madicken dan Lisabet direkomendasikan oleh adik saya karena menurutnya saya pasti suka.

Madicken dan Lisabet adalah kakak beradik yang manis dan ceria walaupun kadang berkata-kata sesuka hati mereka. Tempat tinggal mereka disebut Junibacken, di rumah merah di tepi sungai bersama kedua orang tua mereka dan Alva, seorang gadis pembantu rumah tangga yang sangat sayang pada kedua gadis kecil kebanggaan Junibacken.

Tetangga mereka adalah Bapak dan Ibu Nelsson dan putra mereka, Abbe, yang pandai membuat kue manis. Madicken sering berkunjung ke rumah mereka dan mengobrol dengan Abbe. Pak Nelsson lebih sering mabuk-mabuk sementara Bu Nelsson yang bekerja menjual kue manis buatan Abbe. Menurut saya sangat menarik bagaimana keluarga Nelsson diceritakan dari sudut pandang gadis kecil yang dengan tulus menyayangi mereka.

Banyak kejadian lucu dan menyenangkan yang dialami Madicken dan Lisabet, ada juga yang menegangkan. Komentar-komentar yang mereka lontarkan kadang tidak masuk akal dan bikin ketawa. Paling seru mengikuti kisah Madicken dan teman sekelasnya, Mia. Mereka sering bertengkar dan berkelahi, bahkan saling tantang untuk berjalan di atap sekolah. Tapi berkat kutu rambut, mereka pun menjadi akur. Kisah yang manis sekali.

 

 

Detail buku:

Madicken dan Lisabet oleh Astrid Lindgren

Diterbitkan 2003 (cetakan ketiga) oleh Gramedia Pustaka Utama

Pertama kali terbit 1976, Stockholm

Novel

Di Mana Kirana? – Palris J. Ippal

di-mana-kirana

Saya dan adik saya sudah mau pulang dari perpus daerah, tapi ternyata hujan masih turun. Jadi, kami kembali ke lantai dua dan membaca di ruang fiksi anak. Waktu itu ada rombongan entah dari mana, jadi ruang fiksi anak ramai sekali. Tapi masih ada kursi kosong buat kami.

Saya mengambil dua novel lumayan tipis dari rak. Salah satunya berjudul Di Mana Kirana? karya Palris J. Ippal, satunya lagi Sekoci Penyelamat Antariksa karya Djokolelono. Novel pertama saya ambil karena tertarik setelah membaca ringkasan di sampul belakangnya. Untuk bacaan sambil menunggu hujan reda, novel ringan remaja ini rasanya lebih cocok.

Kim setiap malam bermimpi tentang Kirana, sepupunya. Dalam mimpi itu Kirana meminta tolong pada Kim untuk menguntai kembali kalung mutiara pemberian ayahnya yang rusak. Kim  merasa sangat terganggu dengan mimpi itu sehingga dia mengubah pola tidurnya.

Kim sudah lama tidak berjumpa dengan Kirana karena sepupunya yang cantik itu gemar sekali berpetualang. Kedua orangtua Kirana sudah berpisah. Ibunya seorang pengusaha di Singapura dan tidak terlalu peduli ke mana Kirana pergi, sedangkan ayahnya kembali ke Prancis.

Continue reading “Di Mana Kirana? – Palris J. Ippal”