Komik

When You Wish Upon A Star – Takanori Nakagawa

Akhir-akhir ini setiap kali datang ke perpusda, buku yang saya ambil adalah komik dan langsung baca di tempat. Biasanya cari komik romantis yang ceritanya bagus. Saya dan adik sepakat kalau cerita romantis dari komik lebih asyik dinikmati daripada novel. Kami berdua sama-sama tidak terlalu suka baca novel romantis.

Saya sering bingung kalau mau mengulas komik, yang ada malah menceritakan kembali. Yah, ini sebenarnya untuk saya baca sendiri sebagai pengingat walaupun rasanya tentu berbeda dengan baca komiknya langsung. Jadi, kalau tidak mau spoiler, jangan baca ulasan saya tentang komik.

Beberapa minggu lalu saya menemukan komik berjudul “When You Wish Upon A Star” karya Takanori Nakagawa. Dari sinopsis di bagian belakang sih ini komik fantasi romantis. Tapi gambarnya berbeda dengan komik kebanyakan. Menurut pandangan pertama saya, gambarnya enggak cantik, tapi punya ciri khas. Malah saya kira ini komik lama, ternyata terbit tahun 2013.

When You Wish Upon A Star menceritakan tentang Hikaru dan adik kembarnya, Kaguya. Tepat sebelum libur panas dimulai, mereka dipanggil kakek mereka untuk datang ke rumahnya. Kakak beradik itu dijemput oleh laki-laki bernama Tanaka-kun, seorang yang mengaku sebagai bintang yang menjadi manusia.

Continue reading “When You Wish Upon A Star – Takanori Nakagawa”

Komik

The Dog Club

the-dog-club-01Terus-terusan baca novel itu melelahkan juga. Sekali-sekali butuh selingan seperti baca komik. Satu judul komik yang sangat menghiburku adalah The Dog Club. Isinya banyak anjing yang lucu-lucu dan sangat menambah wawasan tentang anjing.

Klub Anjing Universitas Nanjo berlokasi di kamar apartemen Momota, ketua Klub Anjing, mahasiswa tingkat 5 kedokteran hewan. Dia hidup bersama 15 ekor anjing. Seiji Hayami, mahasiswa baru tingkat 2, bergabung dalam Klub Anjing tersebut. Dia seorang yang gila anjing. Mereka bersama-sama menolong dan merawat anjing-anjing yang telantar.

Punya anjing itu menyenangkan, tapi kalau lebih dari 10 ekor dengan tenaga yang hanya sedikit? Memberi makan, mengajak jalan-jalan, memeriksakan ke klinik kalau ada yang sakit, membagi waktu dengan kegiatan dan tugas kuliah. Tak banyak anggota klub yang bertahan lama dengan kegiatan seperti itu. Lebih seringnya hanya Momo dan Seiji dan merawat mereka. Seiji pun sempat goyah. Tapi dia dan Momo punya hati yang sama terhadap para anjing.

Seiji mendapat banyak pelajaran selama bergabung dalam Klub Anjing. Tidak semua anjing tetap tinggal di Klub Anjing. Mereka secara rutin menyelenggarakan bazar adopsi untuk mencarikan majikan baru bagi anjing-anjing yang dirawat Klub Anjing. Bazar adopsi pertama Seiji sangat berat baginya karena harus melepaskan anak anjing yang sudah dirawatnya. Dari sini dia bisa melihat bahwa masih ada orang-orang baik hati yang peduli pada anjing-anjing.

Setelah bazar adopsi biasanya jumlah anjing akan berkurang. Tapi tak lama akan bertambah lagi jumlahnya karena ada saja anjing telantar yang dibawa ke Klub Anjing. Selain itu, mereka juga berhadapan dengan para pemilik anjing yang sulit. Mereka—terutama Momo sang ketua—bahkan rela berhemat demi memberi makan anjing-anjing. Banyak suka dan duka yang mereka alami.

Terkadang Seiji meminta bantuan dari Mayuko Tamai, teman seangkatannya yang tinggal di apartemen sebelah Klub Anjing. Awalnya Mayuko mengkritik pedas kegiatan Seiji di Klub Anjing, tapi kemudian dia mau membantu saat dibutuhkan, seperti ikut merawat anjing-anjing saat semua anggota klub sedang ada panggilan ke luar. Ada juga Kak Akagi, senior mereka yang telah menjadi dokter hewan. Walaupun sering bersikap dingin karena pikiran realistisnya, tapi dia selalu mengulurkan tangan bagi Klub Anjing. Karena kebodohan menular, katanya. (Andaikan ada dokter hewan setampan dan sebaik dia).

Buat para pecinta anjing, komik karya Yuka Katano (penulis cerita), Haruki Takakura (gambar), dan Aki Hamanaka (skenario) ini sangat aku rekomendasikan. Ceritanya unik, lucu, menyentuh hati, dan ada informasi tambahan di bagian terakhir tiap jilidnya yang menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana tentang anjing. Sayangnya hanya terdiri dari tiga volume.

Komik

Whispers Voices

Banyak harta karun yang belum terjamah (olehku) di rumah. Terutama yang berada dalam laci adik laki-lakiku. Tidak seperti dua kakak perempuannya yang maniak novel, adik kami maniak komik. Terutama komik Doraemon. Tapi entah sejak kapan dia mulai melirik komik genre lain, terutama yang berhubungan dengan kesukaannya pada anjing dan alat musik, juga yang berbau horor atau misteri. Tentu saja hobi barunya berburu komik ini menyenangkanku juga karena aku juga bisa ikut baca. Haha. Selain itu, komik-komik pilihannya termasuk yang tidak biasa.

Salah satu komiknya ada yang berjudul Whispers Voices, karya Misaki Kogawa. Adik perempuanku yang lebih dulu baca dan merekomendasikanku untuk membaca salah satu judul cerita di dalamnya yang menurutnya pasti aku akan suka.

Jadi, aku pun membacanya dan memang aku suka. Ada unsur misteri, tapi juga persahabatan yang indah dan terasa lembut di hati. Lalu, hari ini (Kamis, 22 Desember) aku membaca komik itu lagi dari awal karena ternyata aku belum membaca cerita-cerita lainnya. Adikku membeli komik ini pasti karena di sampulnya ada gambar tokohnya memainkan alat musik.

Komik ini berisi lima cerita. Tiga cerita pertama masing-masing berdiri sendiri. Dua cerita terakhir saling berkaitan. Bagi yang mau meneruskan membaca, di dalam tulisan ini terdapat spoiler.

whispers-voices Continue reading “Whispers Voices”