Novel

The Bookaholic Club #1 – Poppy D. Chusfani

The Bookaholic Club

Saya punya buku keduanya The Bookaholic Club: Hantu-hantu Masa Lalu. Saya kira itu buku pertama. Jadi saya baca buku keduanya dulu baru buku pertamanya. Buku yang pertama saya pinjam di perpusda. Gaya penceritaannya nggak jauh beda.

Buku pertama menceritakan pertemuan empat remaja perempuan berbeda karakter yang hobi baca buku. Des penyihir. Tori gagap dan culun. Chira bisa melihat hantu. Erin luar biasa cantik dan populer.

Ternyata pertemuan dan persahabatan mereka ada yang mengatur. Walaupun begitu mereka tidak menyesal telah bertemu. Namun, ada tugas mengerikan yang harus mereka hadapi untuk menyelamatkan nyawa orang-orang di sekitar mereka, bahkan membahayakan nyawa mereka sendiri.

Novel ini seharusnya bisa jadi lebih seru dan lebih asyik. Menurut saya lebih banyak tell daripada show, terutama saat masing-masing tokoh menjelaskan latar belakang keluarganya. Dan kenapa sih Mbak Poppy menggunakan POV 1 dari keempat tokohnya? Kenapa nggak pakai POV 3 aja sekalian? Memang ada beberapa novel yang berganti-ganti POV, tapi nggak sebanyak ini. Empat, bayangkan. Di buku keduanya pun sama saja.

Untuk karakterisasinya memang bagus. Pribadi masing-masing tokoh, terutama tokoh utama, tergambar dengan jelas. Selain itu, ada bagian yang kocak tentang kehidupan anak remaja. Untuk gaya bahasa agak kaku. Niatnya mungkin mau dibuat seperti novel remaja terjemahan, tapi kurang berhasil. Saat menghadapi Bayangan juga kurang menegangkan. Alur ceritanya terlalu cepat dan kurang berasa. Jadi, yang paling saya suka dari novel ini adalah karakter keempat tokoh utamanya dan persahabatan mereka.

Saya agak sedih karena ternyata ada 3 halaman (7-12) yang hilang dari novel ini. Saya nggak cek waktu pinjam. Hiks.

 

The Bookaholic Club oleh Poppy D. Chusfani

Diterbitkan 2007 oleh PT. Gramedia Pustaka Utama

ISBN 9792232362

Novel

Le Masques – Indah Hanaco

Les Masques

Akhirnya nemu novel Indonesia yang nggak biasa. Bosan sama teenlit dan sejenisnya yang cinta-cintaan. Selain itu, gaya bahasanya juga nggak alay.

Fleur Radella, berdarah blasteran, cantik dan menarik tapi lebih memilih untuk tidak menonjol. Sejak kecil disia-sia oleh neneknya karena kelahirannya tidak diinginkan, tapi terutama karena ibunya meninggal setelah melahirkan Fleur. Punya sifat pemalu dan tertutup karena masa lalu kelam yang melahirkan tiga jiwa yang berbeda dalam dirinya.

Elektra Valerius, jiwa yang berani dan sering mengambil alih kesadaran Fleur untuk membuka jalan kesuksesan bagi Fleur, keputusan yang tidak akan berani diambil oleh Fleur sendiri. Beberapa tindakan Elektra kelewat batas, asal membuat Fleur bahagia.

Tatum Honora, gadis pemurung yang sering berpikiran negatif dan menjadi teman tukar pendapat Elektra. Tatum lebih suka menyendiri.

Adam Dewatra, hanya sekali muncul saat keadaan mendesak dan menunjukkan diri pada Elektra dan Tatum di akhir cerita untuk membantu Tatum.

Continue reading “Le Masques – Indah Hanaco”

Novel

Di Mana Kirana? – Palris J. Ippal

di-mana-kirana

Saya dan adik saya sudah mau pulang dari perpus daerah, tapi ternyata hujan masih turun. Jadi, kami kembali ke lantai dua dan membaca di ruang fiksi anak. Waktu itu ada rombongan entah dari mana, jadi ruang fiksi anak ramai sekali. Tapi masih ada kursi kosong buat kami.

Saya mengambil dua novel lumayan tipis dari rak. Salah satunya berjudul Di Mana Kirana? karya Palris J. Ippal, satunya lagi Sekoci Penyelamat Antariksa karya Djokolelono. Novel pertama saya ambil karena tertarik setelah membaca ringkasan di sampul belakangnya. Untuk bacaan sambil menunggu hujan reda, novel ringan remaja ini rasanya lebih cocok.

Kim setiap malam bermimpi tentang Kirana, sepupunya. Dalam mimpi itu Kirana meminta tolong pada Kim untuk menguntai kembali kalung mutiara pemberian ayahnya yang rusak. Kim  merasa sangat terganggu dengan mimpi itu sehingga dia mengubah pola tidurnya.

Kim sudah lama tidak berjumpa dengan Kirana karena sepupunya yang cantik itu gemar sekali berpetualang. Kedua orangtua Kirana sudah berpisah. Ibunya seorang pengusaha di Singapura dan tidak terlalu peduli ke mana Kirana pergi, sedangkan ayahnya kembali ke Prancis.

Continue reading “Di Mana Kirana? – Palris J. Ippal”

Novel

Cinta/Pergi – Herjuno Tisnoaji

cinta-pergi_herjuno

Akhirnya saya baca novel ini juga, setelah tiga tahun penerbitannya. Baru sempet, baru inget, baru nemu, baru pengen baca? Yaah… yang penting akhirnya saya baca juga. Ini novel salah satu teman penulis di Kekom dan LCDP, salah seorang yang mendukung tulisan saya di grup kepenulisan itu melalui komentar-komentarnya.

Sebelum baca buku ini, saya sudah tahu ada permasalahan di balik penyuntingannya. Sejauh apa penyunting mengotak-atik naskah novel ini sebelum terbit, saya tidak tahu. Sudah cukup banyak ulasan tentang itu di Goodreads jika ingin membaca lebih detailnya. Saya cuma mikir, penyuntingnya kerja apa sih, karena banyak sekali typo bertebaran yang membuat kenyamanan membaca jadi terganggu.

Konsep ceritanya cukup sederhana. Tentang dua remaja, Reizo si berandalan dan Florina si gadis yang ceria. Reizo dengan permasalahan dalam keluarganya, Florina dengan alibinya mendekati Reizo. Pertemanan dengan Florina perlahan-lahan mengubah sudut pandang Reizo mengenai keluarga dan hidupnya.

Menarik sebenarnya, tapi cara penyampaian ceritanya kurang mendetail. Banyak hal yang tidak dideskripsikan dengan jelas, seperti suasana tempat, ekspresi, dan fisik tiap tokohnya. Jadi kesannya kurang dalam. Malah ada hal-hal tidak terlalu penting yang justru diulang-ulang.

Penulis menggunakan sudut pandang Reizo sebagai orang pertama, maka pikiran Reizo terpampang jelas bagi pembaca, namun buat saya kurang terasa gregetnya. Gaya bahasa yang digunakan memang tidak seperti novel-novel teenlit kebanyakan dengan bahasa gaul metropolitannya karena notabene penulis adalah warga Yogyakarta. Jadi, saya bisa menikmati membaca novel ini (terlepas dari hal teknis tadi). Walaupun begitu, ada beberapa penggunaan kata yang menurut saya kurang pas dan bisa diganti dengan kata lain yang lebih umum digunakan.

Saya kagum pada karakter Florina dengan sifatnya yang ceria, baik, dan pantang menyerah. Karakternya sesuai dengan warna sampul novel ini. Hanya saja, saya menyayangkan keputusan yang dia ambil di akhir cerita. Akhir cerita ini jadi twist yang sukses, tapi kenapa dia sekejam itu pada Reizo—mungkin juga kejam pada dirinya sendiri—setelah banyak hal yang mereka alami? Dan kalau dipikir-pikir lagi seharusnya bisa dibuat alternatif ending lain yang tidak terlalu maksa jadi twist, tapi tetap bisa jadi twist yang lebih “manis”.

Kesimpulannya, cerita Cinta/Pergi bisa jadi novel yang lebih baik. Jika dibandingkan dengan karya-karya lain Juno yang sudah saya baca, saya tahu potensi Juno jauh lebih besar dari ini dan tentunya saya menunggu novel-novel Juno berikutnya.

By the way, saya merasa aneh dengan pemilihan nama tokoh utama laki-laki, Reizo. Aneh saja.

 

Detail buku:

Cinta/Pergi oleh Herjuno Tisnoaji

Diterbitkan 2014 oleh Moka Media

Antologi Puisi

Astromantic – Jessica Permatasari Handoyo

Astromantic_Jessica Permatasari cover.jpg

Dari banyak buku kumpulan puisi di rumah, saya hampir tak membaca satu pun. Pernah mencoba membaca satu atau dua buku, tapi entah kenapa kurang sreg. Ada puisi-puisi yang saya suka, tapi belum keseluruhannya di satu buku. Buku-buku itu bukan punya saya, tentu saja, tapi punya Ayahanda. Buku puisi yang saya punya cuma satu, Sambil Jalan karya Landung Simatupang.

Kemudian saya melihat buku ini, Astromantic, antologi puisi pertama yang ditulis Jessica Permatasari Handoyo bersama beberapa kawan, Alfred Abidondifu, Alma Linggar Jonarta, A. M. Ramdan, dan Dwi Marleni. Gambar sampulnya manis, ukuran dan jenis hurufnya pas. Kebanyakan buku kumpulan puisi—yang saya tahu—gambar sampulnya kurang mengundang, ada juga yang hurufnya terlalu kecil, spasinya terlalu rapat, atau hal teknis lainnya yang membuat saya kurang berminat membacanya.

Namun yang terpenting, puisi-puisi dalam Astromantic bisa saya nikmati. Bisa dibilang sesuai dengan selera saya. Gaya bahasa yang digunakan lugas, mengena di hati, dan mudah dicerna—sejauh yang sudah saya baca hingga tulisan ini dibuat. Ketika membacanya saya bisa membayangkan berada di padang luas dengan angin sepoi yang menggoyangkan rerumputan dan dedaunan di bawah langit biru berhiaskan awan cirrus yang lembut. Membiarkan perasaan hati ini mengembara bersama angin.

Detail buku:

Astromantic oleh Jessica Permatasari Handoyo

Diterbitkan 2014 oleh Indie Book Corner

Antologi Cerpen

Laba-laba ~ Kumpulan Cerpen

laba-laba_gus-tf-sakai

Aku jarang membaca kumpulan cerpen, hanya kalau sedang ingin saja. Saat ke perpusda hari Sabtu (31 Desember) lalu aku menemukan sebuah kumpulan cerpen Laba-laba, karya Gus tf Sakai. Endorsement di sampul belakangnya cukup membuatku tertarik, atau karena aku memang sedang ingin membaca sesuatu yang berbeda.

Aku terkagum setelah membaca satu judul cerpennya, lalu membaca biografi di halaman belakang, siapakah Gus tf Sakai ini.

Gus tf Sakai, dilahirkan 13 Agustus 1965 di Payakumbuh, Sumatra Barat, dari ayah Bustamam dan ibu Ranjuna. Selepas SMA di Payakumbuh, ia melanjutkan studinya di Fakultas Peternakan Universitas Andalas, Padang, dan tamat 1994. Mulai menulis prosa pada usia 13 tahun, sejak sebuah cerita pendeknya memenangkan Hadiah I pada sebuah lomba.

Setelah itu dituliskan bahwa Gus tf Sakai sering mengikuti lomba dari berbagai media dan mendapat penghargaan atas karya-karyanya. Laba-laba adalah kumpulan cerpennya yang ketiga setelah Istana Ketirisan (Balai Pustaka, 1996) dan Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (Gramedia, 1999) yang memenangkan Hadiah Sastra Lontar 2001 dan penghargaan sastra Pusat Bahasa 2002.

Seperti endorsement  yang ditulis oleh Goenawan Mohamad di sampul belakang buku, cerpen dalam Laba-laba adalah cerpen situasi yang membangkitkan sebuah suasana. Aku benar-benar merasakannya saat membaca setiap cerpen yang ada, semuanya 14 cerpen.

Cerpen-cerpennya cenderung suram, juga misterius. Beberapa mengangkat tentang adat suatu daerah di Indonesia dan kemistisannya, serta perubahan yang terjadi di dalamnya. Tipe cerita yang aku senangi belum lama ini. Mengingatkanku bahwa Indonesia kaya akan suku dan adat istiadat yang bisa diolah menjadi cerita yang menarik. Gus tf Sakai tak hanya mengangkat daerah asalnya, tapi juga daerah lain di Indonesia seperti Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi.